Sistem Ranking Kelas Banyak Dampak Negatifnya
Saat pembagian rapor semester I lalu, tidak sedikit orang tua siswa L****** yang bertanya mengapa dalam rapor tidak dicantumkan ranking anak mereka di kelas dan nilai rata-rata kelas anak mereka. Padahal banyak sekali dampak negatif dari pencantuman ranking kelas dan nilai rata-rata kelas ini ketimbang dampak positifnya.
Pencantuman ranking dan nilai rata-rata kelas dalam rapor siswa bagi masyarakat umum memang dianggap sebagai bentuk komunikasi yang paling mudah dicerna baik oleh siswa sendiri maupun orang tuanya. Siswa dan orang tuanya seringkali merasa tidak puas jika dalam rapor seorang siswa tidak tercantum ranking dan nilai rata-rata kelas. Tanpa keduanya, mereka jadi merasa tidak dapat mengikuti perkembangan kemajuan belajar siswa tersebut.
Padahal pencantuman ranking dan nilai rata-rata kelas tidak berarti apapun selain hanya sekedar memperlihatkan posisi relatif prestasi siswa selama periode waktu tertentu di antara teman-teman sekelasnya, tidak lebih. Sehingga tidak dapat dijadikan alat ukur perkembangan kemajuan belajar siswa. Karena ranking tertentu di kelas yang satu belum tentu setara dengan ranking yang sama di kelas yang lain, ranking tertentu di sekolah yang satu belum tentu setara dengan ranking yang sama di sekolah yang lain.
Yang ada, ranking malah kerap diasosiasikan secara emosional, dijadikan determinan yang menunjukkan apakah seorang siswa termasuk pandai atau tidak. Siswa yang mendapat ranking baik tidak jarang merasa tinggi hati karena merasa dirinya sudah hebat, telah berhasil “mengalahkan” teman-teman sekelasnya. Padahal belum tentu ia telah mengerahkan kemampuan maksimalnya. Ini dapat melahirkan persaingan yang tidak sehat di antara para siswa. Siswa tidak lagi belajar demi pengetahuan itu sendiri, tapi lebih untuk meraih ranking yang bergengsi di kelasnya.
Mungkin inilah salah satu penyebab mengapa siswa hanya berusaha menguasai pelajaran sampai waktu ujian saja. Setelah ujian, pelajaran yang telah dihafal biasanya menguap lagi. Siswa menjadi tidak sadar bahwa apa yang dipelajari itu sesungguhnya sangat berarti untuk bekal masa depan mereka kelak.
Sementara siswa-siswa yang peringkatnya buruk tidak sedikit yang terlalu cepat menilai dirinya tidak mampu, tidak kompeten, sehingga bersikap pasrah dan tidak lagi termotivasi untuk belajar dengan keras. Mereka jadi tidak percaya diri dan memiliki self-esteem (baca: harga diri) yang rendah. Lebih jauh lagi, mereka bisa dikucilkan teman-teman sebayanya sehingga dapat membahayakan kehidupan sosial mereka. Ranking dapat menjadi penentu diterima atau tidaknya seseorang dalam pergaulan di antara teman-temannya.
Ranking dan nilai rata-rata kelas diperoleh dengan membandingkan nilai setiap anak dengan nilai anak-anak lain di kelasnya. Padahal sangatlah tidak adil jika seorang anak dibanding-dibandingkan dengan anak-anak lainnya karena setiap anak mempunyai keunikan, kelebihan, dan kekurangan masing-masing. Yang lebih fair adalah membandingkan anak dengan potensinya sendiri.
Jika orang tua dan guru melihat bahwa anak telah memberikan usaha terbaiknya, apresiasilah berapapun nilai yang diperolehnya karena berarti ia telah mengerahkan kemampuan maksimalnya. Sebaliknya, jika orang tua dan guru melihat bahwa anak belum mengunjukkan upaya terbaiknya, doronglah anak untuk mengaktualisasikan secara maksimal potensinya. Dengan demikian berarti orang tua dan guru mendidik anak dan diri mereka sendiri untuk lebih menghargai proses daripada hasil.
eka kurnia hikmat
Komentar Pak Haidar - Pendiri Yayasan L****** H******
Terima kasih Bu Eka. Saya ingin menggarisbawahi :
” … sangatlah tidak adil jika seorang anak dibanding-dibandingkan dengan anak-anak lainnya karena setiap anak mempunyai keunikan, kelebihan, dan kekurangan masing-masing. Yang lebih fair adalah membandingkan anak dengan potensinya sendiri …”
Maksudnya, saya kira, tugas pendidikan adalah untuk mengudar dengan semaksimum mungkin potensi anak didik. Asumsinya, semua anak memiliki kecerdasan dan potensi-uniknya sendiri. Kalau pun anak tidak cerdas di segala bidang — misal, slow learner, dsb. — makin tidak bermanfaat dan malah merugikan membandingkan prestasinya dengan anak-anak lain — antara lain berdasar alasan psikologis seperti yang ditulis dalam artikel.
Mungkin kekhawatirannya anak tak memiliki jiwa kompetitif, jika tidak diranking. Pertama, sistem ranking bukan satu-satunya cara memotivasi anak didik. Kedua, jiwa kompetitif perlu dipupuk dengan mendorong anak didik bersaing di bidang yang paling dikuasainya, dengan anak lain yang menguasai bidang yang sama. Bukan dengan menggunakan kriteria kemampuan rata-rata seperti yang dilakukan dalam sistem ranking kelas.
Sistem ranking kelas masih berdasar asumsi lama bahwa kecerdasan bersifat tunggal, bukan majemuk — seperti difahami dalam paradigma multiple intelligences. Dalam paradigma MI, bisa saja seorang anak hanya cerdas di 1-2 bidang sementara di bidang lain tidak istimewa, atau malah rendah. Sistem rata-rata, dalam paradigma baru ini, tidak bisa diterima. Banyak sekali orang besar yang cerdas di satu bidang, tapi jeblok di bidang lain. Akan saya kirimkan pada posting terpisah, tabel “high achieving people facing personal challenges” yang dibuat dalam rangka mendukung paradigma multiple intelligences tersebut
Mudah2an bermanfaat.
Komentar Bapak Denny Tunner - Sekr Yayasan L***** H******
Assalamualaikum wr w b. anggota milis yth, mohon maaf saya lama jadi silent member saja, kali ini kok “gatal” untuk menulis serba sedikit. kalau ada kesalahan mohon dimaafkan.
setiap orang tua tentu berharap anaknya menjadi “smart survivor” di kemudian hari. konteks “survivor” tentu mensyaratkan adanya kecakapan khusus.
baru saja beberapa hari lalu saya bertemu dengan kawan saya, yang sangat resah karena “matematika anakku buruk sekali, dan entah bagaimana sampai saya hopeless mengajar anakku” setengah bergurau saya katakan pada kawan saya terhormat tsb: “mungkin sudah waktunya dirimu menterapi diri sendiri, bukan mengajar anakmu matematika.” saya ajak kawan satu itu melakukan “quick assessment” dengan pendekatan multiple intelligence.
mari kita lihat, multiple intelligence menjabarkan smart menjadi beberapa, antara lain: - word smart - number smart - people smart - self smart - body smart - music smart - spiritual smart (saya lupa, lengkapnya sudah ditemukan 9 dari awalnya 7, dan mungkin bertambah lagi).
ternyata kawan satu itu terhenyak menyadari bahwa walau tampaknya anaknya tidak number smart, sang anak (menurut penilaian sang ibu ini) memiliki people smart, word smart, music smart, dan body smart. “lha mengapa kamu worry kalau anakmu MENURUTMU tidak smart di satu aspek, namun smart di empat aspek lain?”
“iya, dulu saya matematika saya buruk, saya tidak ingin anak sayapun demikian.” “lha itu namanya proyeksi, kalau meminjam istilah psikologi. apa daya tangan tak sampai, anak yang diminta menjemput cita-citamu, walau mungkin inner voice sang anak bukan ke situ pula…”
kompetisi bukan satu-satunya cara memantau dan melihat apakah anak nantinya jadi smart survivor. konsistensi dan ketuntasan juga sangat diperlukan daripada sekedar menjadi “pemenang”.
anak saya yang terbesar kelas 5 SD. belajar renang sejak TK. saya lihat, kalau gaya bebas kok tangannya belum bagus betul (menurut pandangan saya yang awam, dan juga bukan perenang). saya tanya gurunya “itu kok tangan anakku belum bagus, dibiarkan saja” jawab gurunya “tunggu 2 tahun lagi pak, kalau dia sudah tumbuh lebih besar dan tulang serta perototannya lebih siap, dengan sendirinya tangannya akan bagus. tidak bisa dipaksakan sekarang.”
subhanallah. 7 tahun untuk menguasai satu gaya. dan anak saya, selalu berbinar kalau waktunya les renang. hujanpun kalau tidak sakit selalu minta berangkat ke kolam renang.
padahal kalau soal kompetisi? terakhir dia ikut kejuaraan nasional, satu tahun lalu. dari 153 peserta, dia mencatat angka yang fantastis: nomor 15 dari bawah! dia bersusah payah untuk bisa menyelesaikan lomba tersebut.
saya tanya,bagaimana rasanya selesai bertanding. dia bilang “saya senang. waktu saya lebih baik daripada pertandingan sebelumnya.” padahal dibanding juara satu, yang memecahkan rekor kelompok umur, waktunya dua kali lipat lebih lama.
saya tanya lagi “mau ikut lagikah kejuaraan renang yang lain” jawabnya “iya dong. saya suka berenang.”
ada kawan lain, menghentikan anaknya dari les balet.
saya tanya, apa alasannya, dan bagaimana komentar anaknya. jawabnya “anakku tidak punya bakat. tidak maju-maju” sedangkan komentar anaknya “bunda mengapa aku berhenti les baletnya?” saya tanya lagi, berapa kali anak itu bertanya pada ibunya. “beberapa kali, selama satu bulan, anakku bertanya beberapa kali, pertanyaan yang sama”.
saya katakan “maaf kawan, mungkin saja engkau telah merampas anakmu dari kecintaannya menari.” dia berkata “tapi anak saya tidak punya bakat. dia tampaknya tidak bisa menjadi prima ballerina” saya goda “kamu guru baletkah?” “ya bukan lah”. “kalau bukan, bagaimana kau tahu anakmu tak berbakat?” l
ebih lanjut saya katakan “saya punya adik-adik, dan teman-teman yang menari sejak kecil. mereka menari selama belasan tahun. setiap pertunjukan, mereka menjadi penari-penari latar, bukan penari utama. mereka MENCINTAI menari.”
contoh-contoh kasus di atas adalah contoh sederhana dimana kita, para orang tua yang perlu merevisi alam pikir dan sudut pandang kita yang mungkin saja terlalu “single minded” dalam melihat perkembangan anak.
menggunakan DIRI KITA sebagai tolok ukur “kinerja” anak. kalau kita ingin anak-anak kita belajar secara optimal, tugas kita para orang tua yang pertama-tama melakukan “unlearning”, termasuk di dalamnya paradigma bahwa
- kalau tidak juara, berarti …………………. (isi sendiri lanjutannya).
- kalau anak tidak sesuai harapan kita, berarti …………………. (isi sendiri lanjutannya).
hal-hal di atas sama saja dengan mengatakan kepada anak “i love you, with the condition that you ………………… (isi sendiri lanjutannya)”.
kasihan anak-anak ya, mau dicintai saja harus ada pra kondisi
ini hal yang halus, samar, sehingga seringkali kita orang tua “overlook” hal-hal ini, dan tanpa sadar menciptakan ekspektasi dan tuntutan pada anak yang mungkin tidak pada tempatnya. mohon maaf jika ada yang tidak berkenan.
wassalam, denny turner