1. laporan aktivitas anak setiap hari/setiap akhir minggu.
diharapkan setiap hari atau setidaknya setiap akhir minggu dapat diberikan laporan singkat mengenai “pencapaian” atau kegiatan anak yang dilakukan disekolah.
misalnya:
a.hari ini ananda tidak mau mengikuti kegiatan mewarnai, tapi lebih tertarik untuk membaca buku mengenai organ tubuh.
b. hari ini ananda “berantem” sama si t akibat rebutan mobil2n.
c. hari ini ananda merebut bekal si z.
d. dll dll
hal ini mungkin dilatarbelakangi oleh ketidakmampuan kami untuk selalu memantau kegiatan ananda di sekolah.. kadang2 kami merasa “heran” atas pencapaian anak kami yang kadang2 tidak diperlihatkan di rumah.
(contohnya.. waktu saya berdiskusi dengan guru kelas mengenai “kekurangan” ananda di rumah,.. tapi guru kelas menjelaskan bahwa ananda mau melakukan aktivitas tersebut disekolah - misalnya melepas sepatu dan kaos kaki sendiri).
2. pembatasan mengenai jenis bekal yang dibawa anak.
memang pada hari tertentu ananda harus membawa buah, namun tak jarang, kami (saya) sebagai orang tua membawakan kue lain selain buah tersebut.. dan kdang2 memang buahnya jadi tidak termakan..
usulannya adalah agar pihak sekolah mengharuskan agar anak membawa bekal makanan HOMEMADE, bukan makanan jadi yang dibeli di toko/supermarket.
terus terang, kami sedang berusaha memperbaiki pola makan kami, terutama untuk ananda kami yang memang picky eater. Harapan kami dengan TERPAKSA membawa bekal makanan HOMEMADE, kadar gizi dari bekal yang dibawa ke sekolah akan lebih baik lagi.. dan dalam usaha mengurangi “jajan” yang memang sekarang kandungannya juga hehehehe…luar biasa.
saya berharap banyak kerjasama dengan pihak sekolah.. mengingat.. bahwa aturan yang diterapkan dirumah dan disekolah diupayakan sejajar agar lebih konsisten dalam penerapannya, sehingga ananda tidak bingung.
mungkin untuk kesempatan pertama dapat di-sosialisasi-kan.. misalnya makanan non-homemade hanya diperbolehkan pada hari jum’at (namun list tetap diperhatikan, misalnya untuk sebangsa chiki/taro/… tetap DILARANG).
harapan kami adalah dengan adanya pembatasan2 yang berlaku di sekolah dan dirumah secara konsisten mengenai “aturan bekal”.. kedepannya akan membentuk pola makan anak yang lebih sehat lagi.
3. sosialisasi pengaruh film di TV terhadap perkembangan anak.
berangkat dari pengalaman pribadi, ternyata anak kami mengalami “ketakutan” yang heboh, salah satunya akibat nonton ultraman.
awalnya anak kami tidak pernah tertarik pada film ini, namun karena pada saat sekolah, teman2nya membicarakan hal ini.. (termasuk berantem2an di sekolah).. ananda kami akhirnya addicted terhadap film ini dan efeknya dalam beberapa bulan terlihat, diantaranya: mengalami mimpi buruk –> halusinasi.. ketakutan yang luar biasanya.
dalam 3 minggu terakhir ini, kami akhirnya TIDAK MEMPERBOLEHKAN ananda untuk melihat tayangan kartun di TV, hanya diperbolehkan untuk menonton DVD (Cars dan Thomas & Friends).. hasilnya alhamdulillah.. tidak pernah mengalami mimpi buruk dan ketakutan yang berlebihan lagi.
Kekuatiran kami adalah,.. minggu depan ananda akan bersekolah kembali,.. akan bersosialisasi lagi bersama teman2nya.. dan mungkin akan “berantem2an” lagi ala ultraman.. dan takutnya.. akan mendorong ananda untuk meminta agar menonton kartun di TV lagi.
Memang yang terakhir ini adalah masalah pribadi kami, dan mungkin tidak menjadi masalah untuk ananda lain.. namun.. bagaimana yaa. dari pihak sekolah untuk meminimalisir/menjembatani/membantu hal ini?
mohon maaf, apabila permintaannya terlalu banyak/berlebihan.. dan mohon maaf juga apabila terdapat banyak kata yang kurang berkenan.
salam,
-yuli-
mamabumi
Pra-TK Pumpkins