Monday, May 26, 2008

I LOv my sistel

ini mungkin yang benar-benar diungkapan oleh bumi deep down inside his heart. gimana tidak coba.. walopun setiap ade “pegang” mainan kakak… pasti ditarik. kalo kakak lagi baca (tepatnya dibacain buku), dan tiba2 ade tarik bukunya… yang ada mukanya ade yang didorong…. tapi yang namanya sayang.. tetep ajah deh..

bukti sayang kakak ke ade diantaranya adalah:

1. mama tidak boleh bawa ade, waktu mama mau nengok uu ke sukabumi.
kejadiannya adalah minggu pagi tanggal 18 mei kemarin. mama sudah “bagi2″ sama papa,.. papa dirumah sama kakak, mama bawa ade. d-day-nya.. bumi nangis sesegrukan n tarik2 baju mama,.. waktu mama sudah siap pergi. bumi diajak?… “ga mau,.. jalannya lama mama,…. ade jangan ikut mama…” akhirnya pas mama menyerahkan ade ke papa,.. bumi langsung berenti nangisnya. *kata papa,.. pas mama pergi,. akhirnya kakak main games,.. sementara ade-nya?.. dicuekin*

2. kejadian selasa 20.05.2008 sore jam 16.30.
mama papa mau ke pangkalan jati, bumi baru bangun tidur, terus makan steak *gaya ya?.. oleh2 dari papa*. bumi ga mau waktu diajak… lebih milih maen games ditemenin mba imas. ndilalah.. pas parkir di depan lapangan.. tiba2 pak gogon nyamperin,.. diikuti sama pak pendi.. eee…. yang lain ikut keluar.. jadilah.. kita “beramah tamah” di depan lapangan.. mama ketemu temen baru lagi.. tante santi…dan akhirnya.. menjelang magrib.. diajak ke rumah tante santi.. katanya.. kasian si ade… kena angin *mana si ade laper, untungnya bawa bekel macaroni schootel*. *ini salahnya,.. hp mama dan papa “tertinggal” di mobil* hasilnya?… dimasing2 hp mama n papa,.. ada miskol sebanyak 6-7 kali. pas akhirnya “tertangkap”.. hehehe.. bumi nangis kebingungan. bukan cari mama or papa.. tapi cari ade sodara-sodara. pas kita nyampe rumah,.. bumi dah nunggu didepan pintu pagar sambil digendong sama ani. pas ade keluar.. bumi memeluk ade dengan sepenuh hati… kayaknya dalam hatinya bilang “aduuh.. ade.. kemana aja siiih….”

3. malam2 nih.. kalo lagi tidur.. posisi mama ada diantara ade dan kakak. kalo kakak bangun tengah malam.. bilang gini niih..”permisi mama, kaka mau pegang kepala ade..” heemmmm….. rasanya kalo begitu,.. ga inget tuh.. kalo kakak sudah “menganiaya” ade.

satu lagi nih.. om geri kasih rekaman lagu2 barney dalam CD, salah satunya lagu “i love my sister“… 2 minggu yang lalu pas lagi blanja susu ke giant, liat rak DVD.. mmhh.. ada beberapa film barney yang baru.. mama pilih “brother & sister“.. ee.. ternyata ada lagu ini juga…. jadi beberapa hari belakangan ini.. bumi suka nyanyi2 sendiri tuh..” i lov my sistel”.. so sweet banget ga siiii……..

Sometimes we’re real close friends,
we stay up late and talk at night

other times we don’t get along,
there are even times we fight

but I know she’s always there
and I know she’ll always care

she’s my sister, I love my sister

I’ve given her a great big hug
when she was feeling sad

but then again I’ve said some things
that have really made her mad

But I know she’s always there
and I know she’ll always care

She’s my sister, I love my sister

But I know she’s always there
and I know she’ll always care

She’s my sister, I love my sister
She’s my sister, I love my sister

http://www.imeem.com/people/r3KeSy/music/y963Q2Et/barney_the_sister_song/

Posted by mamabumi in 02:28:35 | Permalink | No Comments »

Friday, May 9, 2008

Seminar: Multiple Intellegencies - 2

hari ini, mama datang ke kantor jam 12.30.
hehehe.. bukannya mama males bangun pagi *padahal iya siih…*, tapi karena ada undangan seminar di sekolah bumi.
sebenarnya mama tidak mengagendakan untuk datang di seminar ini, tapi setelah undangan seminar yang ditempelkan di buku komunikasi dibaca berulang-ulang.. mmhh.. sepertinya kehadiran orangtua diharapkan sekali.

akhirnya mama memutuskan untuk datang ke seminar dan datang setengah hari ke kantor.
tadinya sih pengen cuti ajah,.. tapi berhubung kata “ok”  dari Pak IN tidak muncul di sms,.. *ini sebuah kode bahwa mama “tidak boleh” cuti.. secara diminta bantuin Pak IN untuk ngumpulin materi RMC-BOC untuk hari selasa besok*.. akhirnya mama meninggalkan ruang seminar pada jam 10.30, padahal Mbak Tika Bisono baru cerita tentang 2 kecerdasan… ya… win-win-lah.. secara mama juga pernah dengar materi yang sama 2 tahun lalu yang disampaikan oleh mmhh.. lupa deh.. kayaknya Ibu Mayke Tedjasaputra deh (atau Ibu Iba ya?) pada acara open house Laz tahun 2006.

mmhh…. ternyata di sponsorin oleh suatu produk susu kelas “platinum”. dikasih kuestioner.. hehehe.. pengen jawabannya nyolot.. tapi buat apa juga.. walopun di kuesioner itu ditulis nama lengkap mama + bumi.. mama tetep bilang:

1. bumi minum susu uht.

2. “sama aja”.. untuk pertanyaan apakah yang membedakan susu gold dan susu platinum.

karena kayaknya percuma juga kalo mama “ngedumel” panjang lebar soal “susu bubuk”.

Tika Bisono memang TOP.. membuat suasana seminar tidak membosankan. *gratis bo’ seminarnya, alhamdulillah*
1. intonasi yang bagus.
2. melibatkan audience untuk berpartisipasi waktu blio “presentasi”
ada yang ti yang “dipaksa” untuk nyanyi “twinkle2 little star” waktu blio menerangkan bahwa kalo kita ingin menyiapkan anak untuk persaingan global.. maka “lingkungan” juga harus mendukung.
hebat deh yang ti-nya.. demi cucu rela ngapain lagu itu.. dan dinyanyikan  pula di forum *walopun nadanya tidak terdengar seperti nada twinkle2 little star*

dari 8 multiple intellegencies, 3 yang mama dengarkan dari Tika Bisono.

1. Kecerdasan verbal/linguistik
kemampuan mengungkapkan pikiran dengan kalimat”
untuk menunjang kecerdasan ini.. anak2 harus dipacu untuk “senang membaca”.
alhamdulillah…. bumi sudah suka buku….dan disekolah juga ada program “pinjam buku” tiap hari *kalo ortunya ga lupa ngembaliin buku tersebut pada keesokan harinya*

2. Kecerdasan Visual/Spasial
kemampuan melihat/berpikir secara 3 dimensi” –> mengamati lingkungan secara holistik, imajinatif”
katanya.. ga pa pa tuh anak berkreasi dengan kamarnya.. diberi kebebasan untuk menata kamar *termasuk tidak mengubah letak barang2 yang diletakkan si anak*

3. Kecerdasan Musikal
peka terhadap nada, melodi, dan ritme, pandai melantunkan lagu, mampu menciptakan sebuah komposisi lagu”
*hahaha… ga bumi banget niih….*
katanya nih.. ada anak yang bisa ceria, ekpresif dan bener2 menghayati alunan lagu… *dicontohin looh ekspresi-nya….*

3 itu aja yang mama dengerin..berhubung sudah janji sama aki untuk keluar dari ruang seminar jam 10.30.
rencananya.. seminar dimulai jam 9.00,.. tapi berhubung macet berat.. baru mulai sekitar 9.30-an.. itu juga didahului sama TK B yang melakukan performance.

5 kecerdasan lainnya adalah:

4. Kecerdasan Kinestetik/motorik
“kemampuan bergerak & menyentuh, mengenal dunia melalui otot, mampu mengontrol gerakan, keseimbangan dan ketangkasan –> keterampilan fisik, koordinasi motorik kasar dan halus = baik”

5. Kecerdasan logika/matematik
“kemampuan berpikir induktif & deduktif, mampu bekerja dengan angka. Mampu berpikir abstrak, dapat mencari sebab akibat”

6. Kecerdasan interpersonal
“kemampuan mengerti dan berinteraksi dengan orang lain”

7. Kecerdasan intrapersonal
“kemampuan melihat diri sendiri, peka terhadap nilai-nilai yang dianut, perasaan dan tujuan hidup”

8. Kecerdasan Naturalistik
“kemampuan mengamati alam/lingkungan serta sistem yang ada”

Posted by mamabumi in 10:25:40 | Permalink | No Comments »

Thursday, May 8, 2008

Latar Belakang Seminar: Puyer, Quo Vadis?

Seminar “Puyer: Quo Vadis?” dilaksanakan atas dasar keprihatinan beberapa pihak akan maraknya pengobatan tidak rasional di Indonesia. Dalam technical briefing seminar WHO awal tahun 2004 perihal Kebijakan Obat Esensial dikemukakan bahwa di negara berkembang, jumlah obat yang diresepkan yang sebenarnya tidak perlu diberikan mencapai 39% - 59%. Hal ini mencerminkan tingginya uang untuk membeli obat yang sebenarnya tidak perlu alias pemborosan.

K. Holloway dalam technical briefing seminar WHO 2004 di Geneva menyatakan bahwa dari 30% - 60% pasien yang memperoleh antibiotika, hanya 10% - 25% saja yang benar-benar memerlukannya. Sementara obat-obatan ini jika diberikan kepada pasien memiliki efek samping yang tidak diinginkan.

Yayasan Orangtua Peduli (YOP) mengadakan dua penelitian cross sectional dengan mengumpulkan resep yang dikirim melalui e-mail ke mailing list SEHAT atau resep dan kwitansi yang dikirim ke YOP. Resep yang ditelaah adalah resep untuk anak dengan 4 kondisi yaitu batuk, pilek, demam (ISPA); demam, diare akut (dengan atau tanpa muntah); dan batuk tanpa demam lebih dari 1 minggu. Dari 160 anggota mailing list, temuan kunci penelitian tersebut adalah sebagai berikut:

  • Jumlah obat. Median jumlah obat yang diresepkan adalah 5 (dengan rentang 2 - 11 obat). Batuk merupakan kondisi yang jumlah obat dalam peresepannya paling tinggi yaitu 11 obat. Tingkat peresepan puyer mencapai 55,4% pada diare akut, 72,6% pada demam, 77,4% pada ISPA, dan 87% pada batuk.
  • Antibiotika. Tingkat pemberian antibiotika paling tinggi pada anak demam yaitu 87% disusul dengan diare 75%, ISPA 54,5%, dan pada anak batuk tanpa demam sebesar 47%.
  • Generik. Tingkat peresepannya sangat rendah yaitu 0% pada kasus demam, 5% pada diare akut, 7% pada ISPA dan 10,5% pada batuk tanpa demam.
  • Steroid. Obat yang mengandung steroid diberikan pada anak batuk sebesar 60,9%, pada ISPA sebesar 50,9%; sebesar 53,5% pada demam dan bahkan pada diare 18,5%. Tingginya tingkat pemberian steroid sangat memprihatinkan, terlebih karena tidak sesuai tata laksana (guideline) penanganan penyakit-penyakit tersebut dan steroid yang diberikan merupakan steroid yang cukup “keras”.
  • Suplemen. Peresepan multivitamin, ensim, “perangsang nafsu makan” atau “imunomodulator” cukup tinggi yaitu 21,9% pada ISPA, pada demam 34,9%, pada batuk 2,4% dan paling tinggi pada diare yaitu 61,9%.
  • Biaya. Biaya yang dikeluarkan untuk membeli obat-obatan pada ISPA berkisar antara Rp 15.000 - Rp 747.000 (median Rp 117.500); demam Rp 20.800 - Rp 137.000 (maksimum Rp 326.000); diare akut Rp 56.000 - 161.000 (maksimum Rp 349.000). Analisis biaya pada peresepan pediatri di Jakarta menunjukkan tingginya biaya ketika dokter tidak bekerja sesuai tata laksana. Apalagi mengingat biaya bukan sekedar rupiah, tetapi juga harm atau potential harm yang ditimbulkan.

Penelitian menunjukkan adanya dua hal yang berperan dalam pengobatan tidak rasional, yakni keterbatasan pengetahuan petugas profesional kesehatan mengenai bukti-bukti ilmiah terkini, sehingga tidak jarang tetap meresepkan obat yang tidak diperlukan (misalnya antibiotika dan steroid untuk penyakit infeksi virus). Kedua, keyakinan dan perilaku pasien sangat berperan dalam penetapan obat yang diberikan.

Salah satu contoh pengobatan tidak rasional adalah pemberian campuran berbagai obat yang diracik dan dijadikan “puyer” (obat bubuk) atau dimasukkan ke dalam kapsul atau sirup oleh petugas apotek (lazim disebut compounding).? Peresepan obat puyer untuk anak di Indonesia sangat sering dilakukan karena beberapa faktor:

  • Dosis obat dapat disesuaikan dengan berat badan anak secara lebih tepat
  • Biayanya bisa ditekan menjadi lebih murah
  • Obat yang diserahkan kepada pasien hanya satu macam, walaupun mengandung banyak komponen

Menurut Prof. Dr. dr. Rianto Setiabudi, Sp.FK dari Farmakologi FK-UI, peresepan obat puyer membawa risiko untuk pasien dan berbagai dampak negatif lainnya. Di negara maju, praktik ini sudah sangat berkurang karena:

  • 1. Kemungkinan kesalahan manusia dalam pembuatan obat racik puyer ini tidak dapat diabaikan, misalnya kesalahan menimbang obat, atau membagi puyer dalam porsi2 yang tidak sama besar. Kontrol kualitas sulit sekali dapat dilaksanakan untuk membuat obat racikan ini.
  • 2. Stabilitas obat tertentu yang dapat menurun bila bentuk aslinya digerus, misalnya bentuk tablet salut selaput (film coated), tablet salut selaput (enteric coated), atau obat yang tidak stabil (misalnya asam klavulanat) dan obat yang higroskopis (misalnya preparat yang mengandung enzim pencernaan)
  • 3. Toksisitas obat dapat meningkat, misalnya preparat lepas lambat bila digerus akan kehilangan sifat lepas lambatnya.
  • 4. Waktu penyediaan obat lebih lama. Rata-rata diperlukan 10 menit untuk membuat satu resep racikan puyer, 20 menit untuk racikan kapsul, sedangkan untuk mengambil obat yang sudah jadi hanya perlu kurang dari 1 menit. Kelambatan ini berpengaruh terhadap tingkat kepuasan pasien terhadap layanan di apotek.
  • 5. Efektivitas obat dapat berkurang karena sebagian obat akan menempel pada blender/mortir dan kertas pembungkus. Hal ini terutama terjadi pada obat-obat yang dibutuhkan dalam jumlah kecil, misalnya puyer yang mengandung klopromazin.
  • 6. Pembuatan obat puyer menyebabkan pencemaran lingkungan yang kronis di bagian farmasi akibat bubuk obat yang beterbangan ke sekitarnya. Hal ini dapat merusak kesehatan petugas setempat.
  • 7. Obat racikan puyer tidak dapat dibuat dengan tingkat higienis yang tinggi sebagaimana halnya obat yang dibuat pabrik karena kontaminasi yang tak terhindarkan pada waktu pembuatannya.
  • 8. Pembuatan obat racikan puyer membutuhkan biaya lebih mahal karena menggunakan jam kerja tenaga di bagian farmasi sehingga asumsi bahwa harganya akan lebih murah belum tentu tercapai.
  • 9. Dokter yang menulis resep sering kurang mengetahui adanya obat sulit dibuat puyer (difficult-to compound drugs) misalnya preparat enzim.
  • 10. Peresepan obat racik puyer meningkatkan kecenderungan penggunaan obat irasional karena penggunaan obat polifarmasi tidak mudah diketahui oleh pasien.

Untuk rumah sakit yang ingin mencapai standar internasional, khususnya dalam melindungi keselamatan pasien, maka penulisan resep dan pembuatan obat racikan ini perlu dihapus.  Kelak diharapkan semua kebutuhan obat untuk anak dapat dipenuhi berdasarkan obat formulasi pabrik.

Peran Organisasi Profesi Kedokteran dan Kebijakan Pemerintah

Ada 3 agenda tindakan untuk meningkatkan penggunaan obat yang rasional. Pertama, pendekatan edukasi: konsep obat esensial dan aplikasinya serta pendidikan preskripsi yang rasional kepada mahasiswa kedokteran. Selain itu rumah sakit pendidikan punya tanggung jawab etis terhadap masyarakat untuk mempromosikan peresepan yang rasional melalui contoh konkret dari para staf pengajarnya. Sayangnya, justru rumah sakit pendidikan di Indonesia adalah tempat mengajarkan peresepan yang tidak rasional.

Agenda kedua adalah skim manajerial: melalui siklus pengadaan obat. Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) yang diimplementasikan secara konsisten dan diikuti dengan baik oleh setiap tingkat pelayanan kesehatan sangat penting artinya. Estimasi pengadaan obat harus didasarkan pada morbiditas (angka kesakitan), bukan atas dasar penggunaan sebelumnya. Agenda ketiga, intervensi regulasi.

Peran Dokter dan Industri Farmasi

Suatu penelitian skala besar di beberapa negara maju menunjukkan sedikitnya tiga alasan mengapa para dokter cenderung abusive dalam  pola peresepannya:

  • Kurangnya kepercayaan diri (lack of confidence). Dokter sering kurang percaya diri untuk menyatakan bahwa penyakit pasien disebabkan infeksi virus dan tidak memerlukan antibiotika. Dokter juga khawatir pasien akan pindah ke dokter lain yang justru akan memberikan antibiotika. Saat pasien sembuh ia akan menganggap antibiotikanya lah yang menyembuhkan. Padahal, setiap penyakit memiliki pola perjalanan penyakit. Saat berobat ke dokter kedua, penyakitnya diambang kesembuhan. Jadi, sama sekali tidak ada hubungan dengan antibiotika yang diberikan.
  • Desakan pasien (patient pressure). Tidak sedikit pasien yang meminta antibiotika atau menuntut obat cespleng. Di lain pihak, tidak sedikit pasien yang bersikap pasif, tidak bertanya atau mencari informasi perihal pengobatan yang diberikan.
  • Desakan perusahaan (company pressure).

Peran Apoteker

Seorang apoteker di Kanada menceritakan tugasnya di sana, yang antara lain meliputi:

  1. Pengecekan apakah resep dari dokter tidak salah untuk penyakit tertentu dan apakah dosisnya sudah tepat. Kalau resepnya salah, apoteker harus menghubungi dokter, sehingga kalau ada kesalahan, masih bisa diperbaiki.
  2. Pengecekan kemungkinan interaksi obat. Setiap pasien mempunyai arsip di komputer apotek berisi obat-obat yang pernah dipakainya. Jadi kalau obat/resep baru bisa menyebabkan interaksi obat, apoteker harus memberitahukan dokter yang bersangkutan untuk mengganti obat, bila perlu.
  3.  Mengawasi apakah pasien adalah pengguna obat yang berlebihan atau drug’s/narcotic’s abuser. Walaupun pasien pindah ke apotek lain, kalau membeli obat jenis narkotika, riwayat pemakaian obat narkotika dapat diketahui sebab pemakaian obat narkotika disimpan di komputer sentral yang bisa di akses setiap apotek.
  4. Konseling. Memberikan konsultasi kepada pelanggan adalah tugas yang sangat penting bagi apoteker.
  5. Dari segi ekonomi, apoteker dianjurkan mengganti obat bermerek yang dianjurkan dokter dengan obat generik.

Peran Pasien  

Era informasi ini telah menggulirkan pergeseran di berbagai aspek kehidupan termasuk aspek kesehatan khususnya di sisi pengetahuan dan kesadaran kesehatan. Khalayak umum dengan mudah memperoleh akses ke pengetahuan kesehatan. Kemudahan ini seperti mengisi kehausan ilmu kaum muda Indonesia yang sudah semakin menyadari haknya dan sudah mulai memposisikan dirinya sebagai konsumen.

Hal ini tercermin dari semakin meningkatnya  upaya masyarakat dalam membekali diri dengan pengetahuan kesehatan. Mereka juga mencermati iklim layanan kesehatan baik di luar Indonesia dimana konsumen terbukti berhasil membantu mewujudkan iklim layanan kesehatan yang lebih baik dan rasional. Mereka juga gencar mencari dan berbagi informasi perihal siapa-siapa saja dokter yang rasional. Mereka bisa saja mengunjungi dokter dengan membawa artikel dan pedoman yang diperoleh dari berbagai sumber, seperti internet, atau sudah memahami tatalaksana pemberian obat yang tepat (evidence-based medicine/EBM) dan pedoman (guidelines) yang ada.

Lalu bagaimana dokter menyikapi fenomena dan kondisi seperti ini? Penerapan pedoman dalam praktek sehari-hari, cepat atau lambat, akan membantu mengangkat citra profesionalisme dokter sebagai tenaga medis.

Peran Media Massa

Media massa memainkan peranan sangat besar sebagai sarana sosialisasi pengetahuan dan kebijakan baru bagi masyarakat. Sayangnya, banyak media massa yang tanpa disadari telah dimanfaatkan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menyesatkan masyarakat dengan informasi yang tidak seimbang dan tidak tepat.

Peran Institusi Pendidikan Kedokteran dan Farmasi

Dokter, perawat, dan farmasis merupakan sumber bagi orang awam ketika membutuhkan informasi tentang obat. Sebagai konsekuensi, profesi ini dituntut untuk selalu memperbaharui ilmu yang mereka miliki dengan menghadiri berbagai konferensi, pelatihan, dan seminar tentang kedokteran termasuk penggunaan obat yang rasional. Kurangnya pengetahuan mengenai penggunaan obat yang rasional dapat mencerminkan kualitas pelayanan. Diperlukan program tentang penggunaan obat yang rasional yang meliputi pelatihan dalam praktek peresepan dan dispensing yang tepat dan sistem yang mengatur pengawasan (monitoring) secara berkala terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan untuk mempromosikan penggunaan obat yang rasional.

Institusi kedokteran dan farmasi juga berperan dalam menyelenggarakan berbagai pendidikan berkelanjutan untuk tetap mempertahankan kompetensi yang dimiliki para dokter dan farmasis.

Suryawati dan Santoso tahun 1997 melakukan pelatihan untuk mahasiswa kedokteran yang akan menjalani magang klinik untuk mengenali klaim yang berlebihan atau indikasi yang diperluas tanpa didukung dasar ilmiah, infomasi yang salah tentang efek samping, rekomendasi yang tidak tepat untuk dosis dan penggunaan obat, informasi yang salah tentang profil farmakodinamik dan farmakokinetik, dan kurangnya informasi tentang peringatan dan pencegahan. Pelatihan ini terbukti efektif bahkan hingga 12 bulan setelahnya, pelatihan ini terbukti merupakan metode yang berguna untuk membekali mahasiswa dengan pengetahuan dan ketrampilan agar dapat menilai informasi tentang obat dan iklan secara kritis.


 

Penutup

Jelas sekali terlihat bahwa masalah penggunaan obat yang rasional bukan hanya tanggung jawab satu atau dua pihak saja (lihat diagram di bawah ini). Diperlukan kerja sama yang saling mendukung antar berbagai pihak. Akhirnya, mari bergandengan tangan memperbaiki pola layanan kesehatan di Indonesia dengan menjunjung tinggi dua warisan filosofis. Pertama, warisan dari jaman Roma ketika Hippocrates mengingatkan para dokter untuk senantiasa mendahulukan kepentingan pasien. Kedua, warisan dari jaman Yunani ketika Galen meminta dokter untuk senantiasa menjunjung tinggi “Primum non no cere” atau Above all do not harm (harm di sini maknanya sangat filosofis).


Semoga profesi dokter bukan hanya mampu bertahan melainkan semakin berjaya dan profesional atas dasar etika tinggi, kompetensi dan transparansi. Semoga semua pihak dapat bergandengan tangan memberikan yang terbaik bagi masyarakat Indonesia umumnya, dan buat anak-anak Indonesia khususnya. Semua anak, termasuk anak Indonesia, berhak memperoleh layanan kesehatan yang terbaik.


-Selesai-


 

Posted by mamabumi in 06:52:28 | Permalink | Comments (1) »

Pengobatan Tidak Rasional Marak Di Indonesia

JAKARTA, 3 Mei 2008 – Penggunaan obat yang tidak rasional masih marak di Indonesia, dan masalah ini menjadi tanggung jawab banyak pihak, dari pembuat kebijakan, asosiasi profesi tenaga kesehatan, industri farmasi, dokter, apoteker, hingga media massa dan pasien. Kerja sama dan dukungan semua pihak mutlak diperlukan untuk memperbaiki kualitas pola pengobatan menjadi rasional sebagaimana dianjurkan Badan Kesehatan Dunia WHO.

Menurut WHO, pengobatan yang rasional adalah pemberian obat yang sesuai kebutuhan pasien, dalam dosis yang sesuai dan periode waktu tertentu, serta dengan biaya serendah mungkin baik bagi pasien maupun komunitasnya. Pola pengobatan yang tidak mengikuti kaidah-kaidah di atas adalah pola pengobatan tidak rasional.

Demikian topik utama seminar Puyer: Quo Vadis? yang diselenggarakan Yayasan Orang Tua Peduli (YOP) bekerja sama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) wilayah Jakarta dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI) hari ini di Aula FK-UI Salemba. Seminar yang diharapkan menjadi titik balik dunia kedokteran Indonesia untuk menata kembali pola pemberian obat agar menjadi rasional ini dihadiri konsumen kesehatan, dokter umum, farmasis, mahasiswa tingkat akhir dan staf pengajar FK-UI.

Para pakar dari berbagai kalangan hadir sebagai panelis: Prof. Dr. dr. Rianto Setiabudi, Sp.FK (Farmakologi FK-UI); dr. Purnamawati S. Pujiarto, Sp.A(K), MMPed (YOP); Dra. Ida Z. Hafiz, Apt. Msi (Farmasi FK-UI);  Prof. dr. Effionora Anwar, M.S., Apt. (Farmasi FMIPA-UI); Huzna Zahir (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia); dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad (K) (IDI wilayah DKI Jakarta); Prof. dr. Mardiono Marsetio, Sp.M (K) (Majelis Kehormatan Etik Kedokteran); dan dr. Zunilda S. Bustami, MS, Sp.FK (Farmakologi UI). Dr. Dra. Delina Hasan Apt, M.Kes bertindak selaku moderator diskusi terbuka di akhir acara.

Topik yang dibahas meliputi praktik peresepan yang baik, konsep pengobatan rasional, puyer dari perspektif farmasi, serta praktik pengobatan di negara lain. Pemaparan para ahli ini dilengkapi testimoni pekerja dan konsumen kesehatan mengenai pengalaman pengobatan dalam praktik sehari-hari.

Contoh pola pengobatan tidak rasional adalah pemberian beberapa obat sekaligus pada saat bersamaan dalam kondisi yang tidak perlu (polifarmasi), pemberian antibiotika yang berlebihan, serta tingginya tingkat pemakaian obat yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Salah satu contoh polifarmasi adalah pemberian puyer atau racikan (compounding) yang berisi beberapa obat sekaligus untuk anak-anak dengan gangguan kesehatan ringan harian seperti demam, batuk-pilek atau diare.

Polifarmasi beresiko memicu interaksi obat. Suatu analisis terhadap sejumlah resep untuk pasien anak-anak yang masuk di suatu apotek di Jakarta Selatan pada tahun 2005 menunjukkan bahwa 53% diantaranya merupakan pemberian obat secara polifarmasi (lebih dari 4 obat) dan  12% diantaranya memicu timbulnya interaksi obat yang tidak diinginkan (sumber: Media Penelitian dan Pengembangan Departemen Kesehatan).

Di beberapa negara berkembang, persentase peresepan antibiotika yang sebenarnya tidak perlu diberikan berkisar antara 52% sampai 62%. Data yang terekam dari Indonesia berdasarkan survei yang dilakukan YOP mencatat sedikitnya 47% antibiotika yang diberikan sebenarnya tidak diperlukan. Penggunaan antibiotika yang tidak tepat ini akan menimbulkan masalah baru, yaitu resistensi kuman.

Menurut Prof. Dr. dr. Rianto Setiabudi, Sp.FK dari Farmakologi FK-UI, pemberian resep racikan (puyer) di luar negeri saat ini hanya tinggal 1%. Sementara di Indonesia, resep puyer untuk anak masih sering sekali dijumpai. Dalam satu hari, apotek di salah satu rumah sakit swasta di Tangerang bisa membuat rata-rata 130 resep puyer. 

“Peresepan obat racikan membawa risiko dan berbagai dampak negatif bagi pasien dan petugas farmasi. Kontrol kualitas sangat sulit dilaksanakan dalam pembuatan puyer karena tingginya kemungkinan kesalahan manusia. Selain itu, stabilitas obat tertentu dapat menurun bila bentuk aslinya digerus, sedangkan toksisitas obat dapat meningkat,” jelas Rianto lebih lanjut.       

Profesi kedokteran ditantang untuk mau dan mampu melakukan audit profesi dan audit kerasionalan dalam memberikan resep sehingga dampak negatifnya dapat dihindari, seperti meningkatnya biaya pengobatan yang tidak efisien serta terjadinya efek obat yang tidak diharapkan.  

Kurangnya informasi terhadap bukti ilmiah baru tentang obat dan farmakoterapi tampaknya dihadapi kalangan profesional kesehatan di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Ironisnya, kelemahan ini dimanfaatkan duta-duta farmasi sebagai peluang. Dengan gencar, para dokter dibanjiri informasi mengenai produk obat mereka. Sayang, informasi ini umumnya tidak seimbang, cenderung dilebih-lebihkan, dan berpihak pada kepentingan komersial.

-Selesai-

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:

Yayasan Orang Tua Peduli
Komplek PWR, Jalan Taman Margasatwa No. 60, Jakarta 12540
Tel: (021) 780 0271
dr. Purnamawati S. Pujiarto, Sp.A(K), MMPed (purnamawati.spak@cbn.net.id)

dr. Yoga Pranata, S.Ked (doyogh@gmail.com

Posted by mamabumi in 06:17:12 | Permalink | No Comments »

Wednesday, May 7, 2008

Puyer: Quo Vadis?

ini salah satu oleh2 dari seminar yang diadakan YOP, sabtu 3 Mei 2008 di FKUI.
Target Peserta adalah kalangan medis Civitas Akademika FKUI.
Mayoritas peserta adalah dokter muda (PPDS or yang sedang KO-Ass).

PEMBICARA:
1. Praktik Peresepan yang Baik (Prof. DR. dr. Rianto Setiabudi, Sp.FK)

2. Testimoni Pekerja Kesehatan tentang Pengalaman Memberikan Pengobatan dalam Praktek Sehari-hari (dr Farian & dr Fabian)

3. Konsep Pengobatan yang Rasional( dr. Purnamawati S. Pujiarto, Sp.A (K), MMPed)

4. Testimoni Konsumen Kesehatan tentang Praktek Pengobatan yang Dialami Sehari-hari (Gendi, Ade Novita, Pak Handadi)

5. Puyer dari Perspektif Farmasi (Dra. Ida Z. Hafiz, Apt. Msi)
6. Praktik Pengobatan di Negara Lain (Dr. Moh Shahjahan (WHO))

SESI DISKUSI:
“Masih Rasionalkah Penggunaan Puyer?”

Moderator: : DR. Dra. Delina Hasan, Apt, M.Kes

Panelis:

  1. Farmakologi FKUI : Prof. DR. dr. Rianto Setiabudi, Sp.FK
  2. Farmasi FKUI : Dra. Ida Z. Hafiz, Apt. Msi
  3. Farmasi FMIPA-UI  : Prof. dr. Effionora Anwar, M.S., Apt.
  4. Yayasan Orang Tua Peduli : dr. Purnamawati, Sp.A (K) MMPed
  5. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia : Ibu Huzna Zahir
  6. IDI wilayah DKI Jakarta : dr. Eddi Junaidi, Sp.OG (Salah satu “Sambutan” diberikan oleh Ketua IDI wilayah DKI Jakarta (dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad (K)), sayang pas sesi diskusi, blio ada acara lain sehingga digantikan oleh dr Eddi)
  7. Majelis Kehormatan Etik Kedokteran : Prof. dr. Mardiono Marsetio, Sp.M (K)
  8. Direktur Pengobatan Obat Rasional Direktur Jendral Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan : Dra. Nani Sukasediati, MS.

Menurut saya dan beberapa teman yang ikut,.. yang konsisten menyuarakan Rational Use of Drugs/Medicines adalah:
1. Prof Rianto.
2. dr Purnamawati
3. Moh Sjahjahan (dari Bangladesh ni… sharing kalo disana GA ADA PUYER, bangladesh gituh looh!..)
yang lainnya masih berada di area abu-abu…

HOT GOSSIP:
Salah satu Konsulen Spesialis Anak, datang pada seminar ini… *surprise.. karena hanya blio yang satu-satunya datang diantara Konsulen lainnya yang diundang*,.. cuman blio memilih meninggalkan ruangan pada break 1. setelah ada testi dari seorang dokter muda tentang pengalaman prakteknya, diantaranya:
1. dokter muda tersebut dianggap “blagu” sama teman sejawatnya hanya karena memberikan beberapa referensi artikel.
2. doktermuda tersebut menjelaskan bahwa kadang2 resep yang diberikan adalah “warisan”.
3. dokter muda tersebut bilang kadang2 mereka meresepkan obat dulu,.. baru cari diagnosanya.
4. dll dll..

mmhh.. masih banyak PR buat kita..

2 artikel resmi dari PR YOP akan segera diposting disini yaa…


Posted by mamabumi in 02:14:34 | Permalink | No Comments »

Friday, May 2, 2008

buku untuk cuci otak

buku “sok sok aku gosok gigi” (seri: rahasia tubuh kita) terbitan elex media sangat berperan dalam kesuksesan mencuci otak bumi dalam hal perawatan gigi *termasuk pergi ke dokter gig, kemarin hampir 2 bulan = 8 kali bolak balik untuk “memperbaiki hampir seluruh gigi susunya”*.

buku ini pulalah yang dipakai untuk memperkenalkan konsep bakteri, sel darah merah, gigi sakit sampai ke syaraf,  nama2 gigi +jumlahnya serta tidak ketinggalan bagian detail dari gigi itu sendiri (enamel, mahkota gigi, pulpa, dll)


beberapa minggu yang lalu, mama jalan-jalan ke kharisma,.. tadinya mau cari kado buat r***,… nemu 1 buku bagus “my body”.. tengahnya ada gambar  organ tubuh dalam bentuk plastik.. dan tiap lembarnya itu beda2. misalnya lembar 1 ditengahnya itu *plastik* transparan.. gambarnya susunan tulang, terus lembaran plastik berikutnya adalah susunan pembuluh darah, berikutnya gambar susunan otot, susunan alat pernafasan dan susunan alat pencernaan… sementara dibagian kanan dan kiri plastik transparan tersebut adalah “cerita”-nya.

mmhhh.. menarik……..
akhirnya karena bukunya cuman 1,.. mama ga jadi beli buku itu buat kado.. hihihi.. buat nambah koleksi dirumah aja deh..

Bagian yang T O P  B G T adalah gambar dan penjelasan tentang ”makanan” misalnya gambar ayam seperti ayam bakakak *tanpa dipotong*, terus gambar “potongan daging”, seperti gambar “steak”
nah disitu tuh.. bumi bilang:
mama itu apa?
itu ayam, kak.
kakak mau ayam kaya’ begini mama, ada tulangnya..
looh.. kan biasanya kakak juga makan ayam…
terus ini apa mama?
ini daging kak,.. biasanya kakak kan makan rendang
kakak mau yang ini mama…
ooo.. kakak mau steak?
iya mama.. kakak mau..

naah.. jadinya kita ajak bumi ke abuba.
makan sendiri, steak dipotong2 kecil sama mama..
alhamdulillah dimakan, dicocol sama saus tomat. tanpa dilepeh2
bumi makan sendiri, dengan ditambah makan jagungnya.
rekor sekali bukan?

hari ini mama bertambah senang deh, karena barusan ke TriMedia,.. ada beberapa judul dari seri yang sama yang rasanya “pas” buat bumi.”pas” disini artinya:
1. cukup detail.
2. berurutan proses ceritanya.
3. rasa2nya bisa menjelaskan pertanyaan bumi yang ga ada habis2-nya kalo lagi pengen tau sesuatu.
maklum,.. diumuran 4 taun ini,.. pertanyaan yang diajukan oleh bumi.. cukup berkembang dan ga abis2.. jadi rasanya sayang,.. kalau keingintahuan bumi itu,.. tidak dituntaskan… maklum… golden age period

koleksi “rahasia tubuh kita” yang mama temukan adalah:
1. Nyam..nyam..nyam.. lezat!..
2. Aduh, perutku sakit!
3. Tarik napas dalam-dalam.
4. Zzzz…. Aku Mau Tidur.
5. Awww… panas!…

Hari ini mama bawa oleh2 yang “nyam..nyam..nyam.. lezat” dulu deh.
barusan baca sekilas,..cukup ok.
1. ada penjelasan kenapa harus makan.
2. ada penjelasan mengenai nutrisi (karbohidrat, protein, mineral, lemak)
3. ada piramida makanan.

mmhh.. pokoknya mama anggap.. mudah-mudahan buku ini dapat menjelaskan secara ilmiah kepada bumi.. kenapa bumi harus makan bermacam2 jenis makanan.

mudah2an cuci otak yang kali ini.. sukses juga yaa.. biar bumi bisa lebih “bersemangat” lagi makan.. biar bumi tambah “besar”… soalnya mama cukup sedih juga.. dengar dari aki minggu yang lalu,.. ada seorang mama di laz yang menyarankan bumi untuk makan obat cacing… hehehe.. abis bumi kurus siiii……………

Posted by mamabumi in 10:00:24 | Permalink | No Comments »