QT1: Semua Anak Cerdas
*buat FAZ yang dah “rela” dirumah sama bumi n kira*
========
Catatan dari Quality Time @ Laz Cinere
Sabtu, 21 Maret 2009
09.00 – 12.30
Narasumber: Munif Chatib
Target dari sesi kali ini:
1. Ibu/Bapak dapat “melihat” sosok anak secara utuh… “alhamdulillah.. anak saya punya potensi kecerdasan”.
2. Ibu/Bapak mempunyai pemahaman “kesuksesan anak dapat terwujud dari jutaan cara.
Seorang anak, dapat diibaratkan sebagai “climber” yang sedang mendaki gunung.Apabila diiringi dengan mental yang tidak putus asa, climber tersebut dapat mencapai Puncak Gunung.
Begitu pula persiapan seoarang anak untuk menyongsong masa depannya.
Untuk mencapai Puncak,seorang anak memerlukan kaki. Kaki Pertama merupakan “ creativity”. Kaki Kedua merupakan “problem solving”. Diiringi dengan mental “religion & character building”. “Ransel”/alat yang dibawa merupakan life skills.
Insyaallah, dengan “creativity” dan “problem solving” dengan diiringi “religion dan character building” serta membawa “alat” yang merupakan lifeskills, anak tersebut dapat mencapai suatu tujuan akhir yang “baik”.
Menurut Thomas Armstrong PhD *penulis buku The Myth of the ADD Child, in their Own Way dan Awakening Your child’s Natural Genius* terdapat dua bencana besar yang menimpa SDM Amerika yang berkaitan dengan tes kecerdasan,yaitu:
Bencana Pertama, Penerapan Closing Test *diawali pada tahun 1900 oleh Alfred Binet* dan Bencana Kedua, Disabilities test *tahun 1960 oleh Samual Kirk.
Mengapa Bencana?
Bencana Pertama, seseorang diukur berdasarkan secara obyektif dan dinyatakan dalam satu angka, yaitu nilai IQ. Bencana kedua,… Samuel Kirk mengembangkan konsep bahwa manusia harus ditemukan “kelemahan”-nya dan diberi label LD, ADD dan ADHD.
Teori MI dicetuskan oleh Dr. Horward Gardner pada tahun 1983 di Harward University. Beliau mengkritik validasi test IQ dan Labelisasi “Disability Test”. Kritik yang dikemukakan adalah sebagai berikut:
1. Test IQ terlalu “sempit” (hanya mengukur kederdasan bahasa dan logical matematis) dan tidak cocok dengan perkembangan zaman dan budaya tertentu (“alat”-nya tidak bisa standar,… tidak dapat diterapkan secara umum).
2. Tes IQ bersifat eugenics, rasialis. Pada tahun 1900 test IQ dibuat sebagai “alat ukur” yang harus menghasilkan kesimpulan bahwa “kaum buruh dan turunan”-nya tidak dapat “lulus” sehingga tidak dapat “memenuhi” kriteria seorang “Parlementer”.
3. Tes IQ bersifat konstan, seseorang diukur berdasarkan nilai standar:
< 90 : bodoh
91 – 100 : normal
101 – 110 : cerdas
> 111 : jenius
4. Test IQ hanya mengukur batas “ketidakmampuan”.
Lebih lanjut, Gardner me-definisi ”kecerdasan”:
Kecerdasan merupakan kebiasaan, prilaku yang berulang-ulang, sehingga dapat menyelesaikan ”masalah”-nya sendiri (problem solving) dan menciptakan suatu ”kreatifitas”.
Contoh:
Anak yang baru belajar berjalan, ”tertarik” untuk naik tangga.
Sedang berlangsung proses kreatif anak.. ia ingin tahu, ”apa” rasanya berada di tempat yang lebih tinggi… dengan ”pelarangan” yang diberikan, akan ”menghambat” proses kreatif si anak.
Pola Kerja MI
MI berusaha untuk ”menemukan” kemampuan/potensi dari seseorang agar dapat ”menempatkan” seseorang tersebut pada ”tempat yang sesuai” sehingga dapat menghasilkan ”kondisi akhir” yang terbaik.
Diharapkan, orang tua dapat melihat ”potensi” anak, sehingga dapat mengarahkannya sesuai dengan potensinya tersebut agar anak dapat berkembang, sukses dan bahagia berdasarkan potensi yang dimilikinya tersebut.
Dalam MI, kecerdasan seseorang:
- Tidak terkait dengan (1) kondisi fisik *”cacat” bukan merupakan halangan*, (2) kondisi intelligence *pinter/bodoh tidak berarti seseorang tidak punya kecerdasan; (3) hasil tes standar *nilai matematika bukan segalanya, memiliki ranking terjelek dikelas, bukan berarti ”gagal”*
- Terkait dengan (1) discovering ability *bagaimana kita dapat melihat potensi si anak*, (2) right place *setelah ”tau potensi,.. harus ditempatkan ditempat yang ”Sesuai” dan (3) benefiditas. ” Benefiditas adalah kemampuan menunjukkan daya manfaat dalam segala hal, mulai hal yang terkecil sampai terbesar”.
MI terus mengalami perubahan, saat ini Gardner membagi kecerdasan kedalam 8 bagian, yaitu
1. Cerdas Bahasa
2. Cerdas Alam
3. Cerdas Diri
4. Cerdas Angka
5. Cerdas Gambar
6. Cerdas Musik
7. Cerdas Bergaul
8. Cerdas Gerak
