Tuesday, July 22, 2008

Pengalaman Buruk dengan O2

ga disangka,… ternyata aa yayammhh akhirnya menuliskan “uneg2″ tentang PDA-nya. kirain pas sabtu malam mau kasih liat “gambar” or “referensi” untuk big project-nya..

ternyata ngasih liat ini:

http://suarapembaca.detik.com/comment/2008/07/18/091138/973740/283/pengalaman-buruk-dengan-o2


yang ga ku-ku ada 2 hal:
1. beberapa tanggapan yang ga nyambung
2. narsis.com-nya aa yayammhh keluar deh

Posted by mamabumi in 07:11:20 | Permalink | No Comments »

Thursday, May 8, 2008

Latar Belakang Seminar: Puyer, Quo Vadis?

Seminar “Puyer: Quo Vadis?” dilaksanakan atas dasar keprihatinan beberapa pihak akan maraknya pengobatan tidak rasional di Indonesia. Dalam technical briefing seminar WHO awal tahun 2004 perihal Kebijakan Obat Esensial dikemukakan bahwa di negara berkembang, jumlah obat yang diresepkan yang sebenarnya tidak perlu diberikan mencapai 39% - 59%. Hal ini mencerminkan tingginya uang untuk membeli obat yang sebenarnya tidak perlu alias pemborosan.

K. Holloway dalam technical briefing seminar WHO 2004 di Geneva menyatakan bahwa dari 30% - 60% pasien yang memperoleh antibiotika, hanya 10% - 25% saja yang benar-benar memerlukannya. Sementara obat-obatan ini jika diberikan kepada pasien memiliki efek samping yang tidak diinginkan.

Yayasan Orangtua Peduli (YOP) mengadakan dua penelitian cross sectional dengan mengumpulkan resep yang dikirim melalui e-mail ke mailing list SEHAT atau resep dan kwitansi yang dikirim ke YOP. Resep yang ditelaah adalah resep untuk anak dengan 4 kondisi yaitu batuk, pilek, demam (ISPA); demam, diare akut (dengan atau tanpa muntah); dan batuk tanpa demam lebih dari 1 minggu. Dari 160 anggota mailing list, temuan kunci penelitian tersebut adalah sebagai berikut:

  • Jumlah obat. Median jumlah obat yang diresepkan adalah 5 (dengan rentang 2 - 11 obat). Batuk merupakan kondisi yang jumlah obat dalam peresepannya paling tinggi yaitu 11 obat. Tingkat peresepan puyer mencapai 55,4% pada diare akut, 72,6% pada demam, 77,4% pada ISPA, dan 87% pada batuk.
  • Antibiotika. Tingkat pemberian antibiotika paling tinggi pada anak demam yaitu 87% disusul dengan diare 75%, ISPA 54,5%, dan pada anak batuk tanpa demam sebesar 47%.
  • Generik. Tingkat peresepannya sangat rendah yaitu 0% pada kasus demam, 5% pada diare akut, 7% pada ISPA dan 10,5% pada batuk tanpa demam.
  • Steroid. Obat yang mengandung steroid diberikan pada anak batuk sebesar 60,9%, pada ISPA sebesar 50,9%; sebesar 53,5% pada demam dan bahkan pada diare 18,5%. Tingginya tingkat pemberian steroid sangat memprihatinkan, terlebih karena tidak sesuai tata laksana (guideline) penanganan penyakit-penyakit tersebut dan steroid yang diberikan merupakan steroid yang cukup “keras”.
  • Suplemen. Peresepan multivitamin, ensim, “perangsang nafsu makan” atau “imunomodulator” cukup tinggi yaitu 21,9% pada ISPA, pada demam 34,9%, pada batuk 2,4% dan paling tinggi pada diare yaitu 61,9%.
  • Biaya. Biaya yang dikeluarkan untuk membeli obat-obatan pada ISPA berkisar antara Rp 15.000 - Rp 747.000 (median Rp 117.500); demam Rp 20.800 - Rp 137.000 (maksimum Rp 326.000); diare akut Rp 56.000 - 161.000 (maksimum Rp 349.000). Analisis biaya pada peresepan pediatri di Jakarta menunjukkan tingginya biaya ketika dokter tidak bekerja sesuai tata laksana. Apalagi mengingat biaya bukan sekedar rupiah, tetapi juga harm atau potential harm yang ditimbulkan.

Penelitian menunjukkan adanya dua hal yang berperan dalam pengobatan tidak rasional, yakni keterbatasan pengetahuan petugas profesional kesehatan mengenai bukti-bukti ilmiah terkini, sehingga tidak jarang tetap meresepkan obat yang tidak diperlukan (misalnya antibiotika dan steroid untuk penyakit infeksi virus). Kedua, keyakinan dan perilaku pasien sangat berperan dalam penetapan obat yang diberikan.

Salah satu contoh pengobatan tidak rasional adalah pemberian campuran berbagai obat yang diracik dan dijadikan “puyer” (obat bubuk) atau dimasukkan ke dalam kapsul atau sirup oleh petugas apotek (lazim disebut compounding).? Peresepan obat puyer untuk anak di Indonesia sangat sering dilakukan karena beberapa faktor:

  • Dosis obat dapat disesuaikan dengan berat badan anak secara lebih tepat
  • Biayanya bisa ditekan menjadi lebih murah
  • Obat yang diserahkan kepada pasien hanya satu macam, walaupun mengandung banyak komponen

Menurut Prof. Dr. dr. Rianto Setiabudi, Sp.FK dari Farmakologi FK-UI, peresepan obat puyer membawa risiko untuk pasien dan berbagai dampak negatif lainnya. Di negara maju, praktik ini sudah sangat berkurang karena:

  • 1. Kemungkinan kesalahan manusia dalam pembuatan obat racik puyer ini tidak dapat diabaikan, misalnya kesalahan menimbang obat, atau membagi puyer dalam porsi2 yang tidak sama besar. Kontrol kualitas sulit sekali dapat dilaksanakan untuk membuat obat racikan ini.
  • 2. Stabilitas obat tertentu yang dapat menurun bila bentuk aslinya digerus, misalnya bentuk tablet salut selaput (film coated), tablet salut selaput (enteric coated), atau obat yang tidak stabil (misalnya asam klavulanat) dan obat yang higroskopis (misalnya preparat yang mengandung enzim pencernaan)
  • 3. Toksisitas obat dapat meningkat, misalnya preparat lepas lambat bila digerus akan kehilangan sifat lepas lambatnya.
  • 4. Waktu penyediaan obat lebih lama. Rata-rata diperlukan 10 menit untuk membuat satu resep racikan puyer, 20 menit untuk racikan kapsul, sedangkan untuk mengambil obat yang sudah jadi hanya perlu kurang dari 1 menit. Kelambatan ini berpengaruh terhadap tingkat kepuasan pasien terhadap layanan di apotek.
  • 5. Efektivitas obat dapat berkurang karena sebagian obat akan menempel pada blender/mortir dan kertas pembungkus. Hal ini terutama terjadi pada obat-obat yang dibutuhkan dalam jumlah kecil, misalnya puyer yang mengandung klopromazin.
  • 6. Pembuatan obat puyer menyebabkan pencemaran lingkungan yang kronis di bagian farmasi akibat bubuk obat yang beterbangan ke sekitarnya. Hal ini dapat merusak kesehatan petugas setempat.
  • 7. Obat racikan puyer tidak dapat dibuat dengan tingkat higienis yang tinggi sebagaimana halnya obat yang dibuat pabrik karena kontaminasi yang tak terhindarkan pada waktu pembuatannya.
  • 8. Pembuatan obat racikan puyer membutuhkan biaya lebih mahal karena menggunakan jam kerja tenaga di bagian farmasi sehingga asumsi bahwa harganya akan lebih murah belum tentu tercapai.
  • 9. Dokter yang menulis resep sering kurang mengetahui adanya obat sulit dibuat puyer (difficult-to compound drugs) misalnya preparat enzim.
  • 10. Peresepan obat racik puyer meningkatkan kecenderungan penggunaan obat irasional karena penggunaan obat polifarmasi tidak mudah diketahui oleh pasien.

Untuk rumah sakit yang ingin mencapai standar internasional, khususnya dalam melindungi keselamatan pasien, maka penulisan resep dan pembuatan obat racikan ini perlu dihapus.  Kelak diharapkan semua kebutuhan obat untuk anak dapat dipenuhi berdasarkan obat formulasi pabrik.

Peran Organisasi Profesi Kedokteran dan Kebijakan Pemerintah

Ada 3 agenda tindakan untuk meningkatkan penggunaan obat yang rasional. Pertama, pendekatan edukasi: konsep obat esensial dan aplikasinya serta pendidikan preskripsi yang rasional kepada mahasiswa kedokteran. Selain itu rumah sakit pendidikan punya tanggung jawab etis terhadap masyarakat untuk mempromosikan peresepan yang rasional melalui contoh konkret dari para staf pengajarnya. Sayangnya, justru rumah sakit pendidikan di Indonesia adalah tempat mengajarkan peresepan yang tidak rasional.

Agenda kedua adalah skim manajerial: melalui siklus pengadaan obat. Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) yang diimplementasikan secara konsisten dan diikuti dengan baik oleh setiap tingkat pelayanan kesehatan sangat penting artinya. Estimasi pengadaan obat harus didasarkan pada morbiditas (angka kesakitan), bukan atas dasar penggunaan sebelumnya. Agenda ketiga, intervensi regulasi.

Peran Dokter dan Industri Farmasi

Suatu penelitian skala besar di beberapa negara maju menunjukkan sedikitnya tiga alasan mengapa para dokter cenderung abusive dalam  pola peresepannya:

  • Kurangnya kepercayaan diri (lack of confidence). Dokter sering kurang percaya diri untuk menyatakan bahwa penyakit pasien disebabkan infeksi virus dan tidak memerlukan antibiotika. Dokter juga khawatir pasien akan pindah ke dokter lain yang justru akan memberikan antibiotika. Saat pasien sembuh ia akan menganggap antibiotikanya lah yang menyembuhkan. Padahal, setiap penyakit memiliki pola perjalanan penyakit. Saat berobat ke dokter kedua, penyakitnya diambang kesembuhan. Jadi, sama sekali tidak ada hubungan dengan antibiotika yang diberikan.
  • Desakan pasien (patient pressure). Tidak sedikit pasien yang meminta antibiotika atau menuntut obat cespleng. Di lain pihak, tidak sedikit pasien yang bersikap pasif, tidak bertanya atau mencari informasi perihal pengobatan yang diberikan.
  • Desakan perusahaan (company pressure).

Peran Apoteker

Seorang apoteker di Kanada menceritakan tugasnya di sana, yang antara lain meliputi:

  1. Pengecekan apakah resep dari dokter tidak salah untuk penyakit tertentu dan apakah dosisnya sudah tepat. Kalau resepnya salah, apoteker harus menghubungi dokter, sehingga kalau ada kesalahan, masih bisa diperbaiki.
  2. Pengecekan kemungkinan interaksi obat. Setiap pasien mempunyai arsip di komputer apotek berisi obat-obat yang pernah dipakainya. Jadi kalau obat/resep baru bisa menyebabkan interaksi obat, apoteker harus memberitahukan dokter yang bersangkutan untuk mengganti obat, bila perlu.
  3.  Mengawasi apakah pasien adalah pengguna obat yang berlebihan atau drug’s/narcotic’s abuser. Walaupun pasien pindah ke apotek lain, kalau membeli obat jenis narkotika, riwayat pemakaian obat narkotika dapat diketahui sebab pemakaian obat narkotika disimpan di komputer sentral yang bisa di akses setiap apotek.
  4. Konseling. Memberikan konsultasi kepada pelanggan adalah tugas yang sangat penting bagi apoteker.
  5. Dari segi ekonomi, apoteker dianjurkan mengganti obat bermerek yang dianjurkan dokter dengan obat generik.

Peran Pasien  

Era informasi ini telah menggulirkan pergeseran di berbagai aspek kehidupan termasuk aspek kesehatan khususnya di sisi pengetahuan dan kesadaran kesehatan. Khalayak umum dengan mudah memperoleh akses ke pengetahuan kesehatan. Kemudahan ini seperti mengisi kehausan ilmu kaum muda Indonesia yang sudah semakin menyadari haknya dan sudah mulai memposisikan dirinya sebagai konsumen.

Hal ini tercermin dari semakin meningkatnya  upaya masyarakat dalam membekali diri dengan pengetahuan kesehatan. Mereka juga mencermati iklim layanan kesehatan baik di luar Indonesia dimana konsumen terbukti berhasil membantu mewujudkan iklim layanan kesehatan yang lebih baik dan rasional. Mereka juga gencar mencari dan berbagi informasi perihal siapa-siapa saja dokter yang rasional. Mereka bisa saja mengunjungi dokter dengan membawa artikel dan pedoman yang diperoleh dari berbagai sumber, seperti internet, atau sudah memahami tatalaksana pemberian obat yang tepat (evidence-based medicine/EBM) dan pedoman (guidelines) yang ada.

Lalu bagaimana dokter menyikapi fenomena dan kondisi seperti ini? Penerapan pedoman dalam praktek sehari-hari, cepat atau lambat, akan membantu mengangkat citra profesionalisme dokter sebagai tenaga medis.

Peran Media Massa

Media massa memainkan peranan sangat besar sebagai sarana sosialisasi pengetahuan dan kebijakan baru bagi masyarakat. Sayangnya, banyak media massa yang tanpa disadari telah dimanfaatkan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menyesatkan masyarakat dengan informasi yang tidak seimbang dan tidak tepat.

Peran Institusi Pendidikan Kedokteran dan Farmasi

Dokter, perawat, dan farmasis merupakan sumber bagi orang awam ketika membutuhkan informasi tentang obat. Sebagai konsekuensi, profesi ini dituntut untuk selalu memperbaharui ilmu yang mereka miliki dengan menghadiri berbagai konferensi, pelatihan, dan seminar tentang kedokteran termasuk penggunaan obat yang rasional. Kurangnya pengetahuan mengenai penggunaan obat yang rasional dapat mencerminkan kualitas pelayanan. Diperlukan program tentang penggunaan obat yang rasional yang meliputi pelatihan dalam praktek peresepan dan dispensing yang tepat dan sistem yang mengatur pengawasan (monitoring) secara berkala terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan untuk mempromosikan penggunaan obat yang rasional.

Institusi kedokteran dan farmasi juga berperan dalam menyelenggarakan berbagai pendidikan berkelanjutan untuk tetap mempertahankan kompetensi yang dimiliki para dokter dan farmasis.

Suryawati dan Santoso tahun 1997 melakukan pelatihan untuk mahasiswa kedokteran yang akan menjalani magang klinik untuk mengenali klaim yang berlebihan atau indikasi yang diperluas tanpa didukung dasar ilmiah, infomasi yang salah tentang efek samping, rekomendasi yang tidak tepat untuk dosis dan penggunaan obat, informasi yang salah tentang profil farmakodinamik dan farmakokinetik, dan kurangnya informasi tentang peringatan dan pencegahan. Pelatihan ini terbukti efektif bahkan hingga 12 bulan setelahnya, pelatihan ini terbukti merupakan metode yang berguna untuk membekali mahasiswa dengan pengetahuan dan ketrampilan agar dapat menilai informasi tentang obat dan iklan secara kritis.


 

Penutup

Jelas sekali terlihat bahwa masalah penggunaan obat yang rasional bukan hanya tanggung jawab satu atau dua pihak saja (lihat diagram di bawah ini). Diperlukan kerja sama yang saling mendukung antar berbagai pihak. Akhirnya, mari bergandengan tangan memperbaiki pola layanan kesehatan di Indonesia dengan menjunjung tinggi dua warisan filosofis. Pertama, warisan dari jaman Roma ketika Hippocrates mengingatkan para dokter untuk senantiasa mendahulukan kepentingan pasien. Kedua, warisan dari jaman Yunani ketika Galen meminta dokter untuk senantiasa menjunjung tinggi “Primum non no cere” atau Above all do not harm (harm di sini maknanya sangat filosofis).


Semoga profesi dokter bukan hanya mampu bertahan melainkan semakin berjaya dan profesional atas dasar etika tinggi, kompetensi dan transparansi. Semoga semua pihak dapat bergandengan tangan memberikan yang terbaik bagi masyarakat Indonesia umumnya, dan buat anak-anak Indonesia khususnya. Semua anak, termasuk anak Indonesia, berhak memperoleh layanan kesehatan yang terbaik.


-Selesai-


 

Posted by mamabumi in 06:52:28 | Permalink | Comments (1) »

Pengobatan Tidak Rasional Marak Di Indonesia

JAKARTA, 3 Mei 2008 – Penggunaan obat yang tidak rasional masih marak di Indonesia, dan masalah ini menjadi tanggung jawab banyak pihak, dari pembuat kebijakan, asosiasi profesi tenaga kesehatan, industri farmasi, dokter, apoteker, hingga media massa dan pasien. Kerja sama dan dukungan semua pihak mutlak diperlukan untuk memperbaiki kualitas pola pengobatan menjadi rasional sebagaimana dianjurkan Badan Kesehatan Dunia WHO.

Menurut WHO, pengobatan yang rasional adalah pemberian obat yang sesuai kebutuhan pasien, dalam dosis yang sesuai dan periode waktu tertentu, serta dengan biaya serendah mungkin baik bagi pasien maupun komunitasnya. Pola pengobatan yang tidak mengikuti kaidah-kaidah di atas adalah pola pengobatan tidak rasional.

Demikian topik utama seminar Puyer: Quo Vadis? yang diselenggarakan Yayasan Orang Tua Peduli (YOP) bekerja sama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) wilayah Jakarta dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI) hari ini di Aula FK-UI Salemba. Seminar yang diharapkan menjadi titik balik dunia kedokteran Indonesia untuk menata kembali pola pemberian obat agar menjadi rasional ini dihadiri konsumen kesehatan, dokter umum, farmasis, mahasiswa tingkat akhir dan staf pengajar FK-UI.

Para pakar dari berbagai kalangan hadir sebagai panelis: Prof. Dr. dr. Rianto Setiabudi, Sp.FK (Farmakologi FK-UI); dr. Purnamawati S. Pujiarto, Sp.A(K), MMPed (YOP); Dra. Ida Z. Hafiz, Apt. Msi (Farmasi FK-UI);  Prof. dr. Effionora Anwar, M.S., Apt. (Farmasi FMIPA-UI); Huzna Zahir (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia); dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad (K) (IDI wilayah DKI Jakarta); Prof. dr. Mardiono Marsetio, Sp.M (K) (Majelis Kehormatan Etik Kedokteran); dan dr. Zunilda S. Bustami, MS, Sp.FK (Farmakologi UI). Dr. Dra. Delina Hasan Apt, M.Kes bertindak selaku moderator diskusi terbuka di akhir acara.

Topik yang dibahas meliputi praktik peresepan yang baik, konsep pengobatan rasional, puyer dari perspektif farmasi, serta praktik pengobatan di negara lain. Pemaparan para ahli ini dilengkapi testimoni pekerja dan konsumen kesehatan mengenai pengalaman pengobatan dalam praktik sehari-hari.

Contoh pola pengobatan tidak rasional adalah pemberian beberapa obat sekaligus pada saat bersamaan dalam kondisi yang tidak perlu (polifarmasi), pemberian antibiotika yang berlebihan, serta tingginya tingkat pemakaian obat yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Salah satu contoh polifarmasi adalah pemberian puyer atau racikan (compounding) yang berisi beberapa obat sekaligus untuk anak-anak dengan gangguan kesehatan ringan harian seperti demam, batuk-pilek atau diare.

Polifarmasi beresiko memicu interaksi obat. Suatu analisis terhadap sejumlah resep untuk pasien anak-anak yang masuk di suatu apotek di Jakarta Selatan pada tahun 2005 menunjukkan bahwa 53% diantaranya merupakan pemberian obat secara polifarmasi (lebih dari 4 obat) dan  12% diantaranya memicu timbulnya interaksi obat yang tidak diinginkan (sumber: Media Penelitian dan Pengembangan Departemen Kesehatan).

Di beberapa negara berkembang, persentase peresepan antibiotika yang sebenarnya tidak perlu diberikan berkisar antara 52% sampai 62%. Data yang terekam dari Indonesia berdasarkan survei yang dilakukan YOP mencatat sedikitnya 47% antibiotika yang diberikan sebenarnya tidak diperlukan. Penggunaan antibiotika yang tidak tepat ini akan menimbulkan masalah baru, yaitu resistensi kuman.

Menurut Prof. Dr. dr. Rianto Setiabudi, Sp.FK dari Farmakologi FK-UI, pemberian resep racikan (puyer) di luar negeri saat ini hanya tinggal 1%. Sementara di Indonesia, resep puyer untuk anak masih sering sekali dijumpai. Dalam satu hari, apotek di salah satu rumah sakit swasta di Tangerang bisa membuat rata-rata 130 resep puyer. 

“Peresepan obat racikan membawa risiko dan berbagai dampak negatif bagi pasien dan petugas farmasi. Kontrol kualitas sangat sulit dilaksanakan dalam pembuatan puyer karena tingginya kemungkinan kesalahan manusia. Selain itu, stabilitas obat tertentu dapat menurun bila bentuk aslinya digerus, sedangkan toksisitas obat dapat meningkat,” jelas Rianto lebih lanjut.       

Profesi kedokteran ditantang untuk mau dan mampu melakukan audit profesi dan audit kerasionalan dalam memberikan resep sehingga dampak negatifnya dapat dihindari, seperti meningkatnya biaya pengobatan yang tidak efisien serta terjadinya efek obat yang tidak diharapkan.  

Kurangnya informasi terhadap bukti ilmiah baru tentang obat dan farmakoterapi tampaknya dihadapi kalangan profesional kesehatan di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Ironisnya, kelemahan ini dimanfaatkan duta-duta farmasi sebagai peluang. Dengan gencar, para dokter dibanjiri informasi mengenai produk obat mereka. Sayang, informasi ini umumnya tidak seimbang, cenderung dilebih-lebihkan, dan berpihak pada kepentingan komersial.

-Selesai-

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:

Yayasan Orang Tua Peduli
Komplek PWR, Jalan Taman Margasatwa No. 60, Jakarta 12540
Tel: (021) 780 0271
dr. Purnamawati S. Pujiarto, Sp.A(K), MMPed (purnamawati.spak@cbn.net.id)

dr. Yoga Pranata, S.Ked (doyogh@gmail.com

Posted by mamabumi in 06:17:12 | Permalink | No Comments »

Tuesday, August 14, 2007

SusAH MakAN?… Ga Lagi lah yaaww…..

periode bumi susah makan,.. kayaknya bakalan berakhir dengan sukses… setelah susah aka pemilih sekali sejak umur 1.5 taun sampe 3.5 taun,… “tanda2″ mulai berakhirnya udah nongol kurang lebih sejak 1 bulan terakhir….

ini ga jelas sebabnya:

1. apa akibat mba resti-nya yang balik lagi *setelah taun kemaren pulkam untuk nikah*, atauu…

2. akibat dikasih c*****a.. *yang ini gara2 mamabumi yang sensitif waktu cuti kemaren,… pernah beberapa kali “nongkrong” disekolah bumi,.. ga tau.. tiba2 ada angin apa,.. berasa “gagal” banged jadi ibu,… apalagi ngeliat bumi yang kurus kering begitu,*.. atauuu…

3. emang dari bumi-nya yang udah mulai pengen or tertarik untuk makan, makanan baru?…

yang jelas,… sekarang bumi mulai mau tuh icip2.. lasagna,… spagetti….. sate ayam,… bahkan kemaren… mau coba sate padang!… takjub deh gw….

kadang2 sehari,.. bisa makan nasi sampe 5 kali,… cumaaan,… bumi maunya nasi anget,.. jadi yang nyuapin bisa bolak balik same 3-5 kali… secara sekali ambil.. paling banyak 2 sendok makan….

favoritnya adalah ikan kembung goreng, ayam gule or rendang…*rendang bikinan ani ga terlalu pedes*….. sayuran belum mau… buah2an mulai mau lagi… secara udah lamaaa.. banget… juga mogok buah…..

mudah2an ini pertanda yang baik deh seterusnya…

mmhh.. buat parents laen yang anaknya susah makan juga,… mmhhh emang stress siih.. sama urusan susah makan ini… tapi jalanin ajah deh… kalo moms bisa kreatif dalam menyajikan menu,… mungkin akan lebih sukses lagi… bisa ngebujuk anaknya supaya “mau” makan…

aku udah merenung2 deh,… mikir2 apa yang menyebabkan bumi susah makan…

1. dulu bumi diperkenalkan makanan mulai 4 bulan..*mamabumi masih dalam jaman kegelapan*.

2. terlalu cepat dan terlalu bervariasi menunya… coba aja bayangin pas masuk 6 bulan,.. dalam 1 hari.. bumi bisa 3 kali ganti menu,.. dan tiap 1 menunya.. terlalu banyak campuran….. hehehe…. makanya sampe sekarang, bumi ga mau yang namanya bubur ayam.. hehehe.. ngebayang bleneg-nya bumi sama yang bentuknya seperti bubur ini.

tapi,.. kalo bumi lagi sakit,.. biasanya.. nafsu makannya juga berkurang.. ya maklum ajah deh,. kita juga kalo lagi ga enak badan.. biasanya juga ga enak makan kali yaa….. hehehe….

ini ada 1 artikel,.. sapa tau bisa meng-inspirasi… cuman lupaa… dulu ga nyimpen link-nya.

****************

Menyiasati Anak Sulit Makan

Oleh Martina Rini S. Tasmin, SPsi.

Jakarta, 8 Maret 2002

Bagi sebagian ibu, dialog di atas mungkin terdengar sangat familiar di telinga ketika jam makan anak-anak telah tiba. Memberi makan kepada anak-anak balita terkadang memang menyulitkan. Anak tidak selalu menyukai apa yang diberikan kepada mereka. Mereka cenderung lebih menyukai makanan ringan berupa makanan yang manis (seperti permen, biskuit), makanan junk food (biasanya dalam bentuk makan siap saji seperti hamburger, fried chicken, french fries), dan makanan yang tasty (misalnya chiky, cheetos) dibandingkan makanan utama yang berupa nasi dan lauk pauknya.

Menghadapi situasi diatas orangtua biasanya menggunakan berbagai cara untuk membuat agar anaknya mau makan, bahkan seringkali sampai merasa perlu untuk memaksa anak, apalagi orangtua dari anak-anak yang bertubuh mungil. Orangtua mungkin beranggapan bahwa tubuh mungilnya itu terbentuk karena anaknya kurang makan dan gizi. Nah, gimana caranya menyiasati agar anak mau makan makanan yang disediakan oleh orangtua?

Komponen Utama Sumber Energi

Untuk perkembangan tubuh dan energi anak membutuhkan sejumlah kalori. Kebutuhan kalori ini dipenuhi dari nutrisi, yaitu protein, karbohidrat dan lemak. Protein berguna untuk membentuk struktur sel-sel tubuh. Protein banyak terkandung dalam makanan yang terbuat dari tumbuhan maupun hewan, contohnya ikan, susu, keju, kacang dan tepung. Karbohidrat berguna sebagai energi yang diperlukan untuk beraktivitas dan proses-proses penting yang terjadi di dalam tubuh. Karbohidrat terkandung dalam gandum, kacang-kacangan, kentang, beras, buah-buahan, gula dan madu. Lemak juga berguna sebagai sumber energi. Lemak banyak terkandung dalam susu, kacang-kacangan, mentega dan minyak.

Selain membutuhkan nutrisi, tubuh juga membutuhkan vitamin, mineral dan serat. Vitamin, mineral dan serat penting untuk menjaga kesehatan tubuh. Semua makanan pada umumnya mengandung setidaknya satu unsur nutrisi yang dibutuhkan dan dapat juga mengandung vitamin, mineral dan serat. Unsur-unsur inilah yang seringkali disebut dengan istilah Gizi (nutrisi, vitamin, mineral dan serat).

Bagaimana dengan makanan siap saji atau junk food? Junk food yang disukai anak-anak sebenarnya bukanlah makanan yang tidak ada faedahnya sama sekali. Contohnya hamburger, mengandung protein dan lemak, sumber zat besi dan vitamin B yang baik buat anak. Namun perlu diingat bahwa lemak dan protein yang terkandung dalam hamburger melebihi jumlah yang dibutuhkan oleh tubuh. Oleh karena itu jika anak menyukai junk food, tidak ada salahnya sekali-kali diberikan, namun sangat dianjurkan untuk tidak mengkonsumsinya secara berlebihan. Jika hal itu sampai terjadi maka akan berpengaruh kurang baik bagi kesehatan karena asupan gizi yang diperoleh tidak seimbang, dan juga memicu terjadinya obesitas/kegemukan.

Mengapa Anak Menolak Makan?

Papalia (1995), salah seorang ahli perkembangan manusia, mengungkapkan bahwa pada usia 0-3 tahun perkembangan fisik dan otak anak berlangsung paling pesat/growth spurt, karena itu tubuh membutuhkan gizi yang banyak, sehingga biasanya anak memiliki nafsu makan yang baik. Setelah usia 3 tahun, perkembangan tubuh tidak lagi sepesat sebelumnya, kebutuhan tubuh akan makanan menurun dan biasanya diikuti nafsu makan anak yang juga menurun. Oleh karena itu dibutuhkan kreativitas dari orangtua agar anak jangan sampai kekurangan gizi akibat tidak mau makan.

Illingworth (1991), seorang ahli kesehatan anak, mengutarakan beberapa hal-hal yang menurut pengamatannya dapat menjadi penyebab anak tidak mau makan:

Memakan kudapan diantara jam makan, akibatnya tubuh masih berkecukupan dengan nutrisi yang berasal dari kudapan tersebut, sehingga anak tidak merasa lapar

Perkembangan ego sang anak; anak menolak makan sebagai manifestasi dari perkembangan sikap mandiri. Anak merasa sebagai individu yang terpisah dari orangtua, sehingga menolak bentuk dominasi orangtua

Anak ingin mencoba kemampuan yang baru dimilikinya yaitu mencoba makan sendiri tetapi orangtua melarangnya melakukan hal tersebut

Menu tidak bervariasi sehingga anak merasa bosan dengan makanan yang terhidang atau bentuk makanan tidak menarik

Anak sedang merasa tidak bahagia, sedih, depressi atau merasa tidak aman/nyaman

Anak sedang sakit

Sementara itu, bentuk penolakan yang dilakukan anak dapat berupa:

Memuntahkan makanan

Makan berlama-lama dan memainkan makanan. Pada tahapan usia 9 bulan-2,5 tahun memang masih merupakan suatu hal yang wajar jika anak makan berlama-lama karena ia belum mengenal konsep waktu. Namun jika anak telah berumur lebih dari usia tersebut, tetapi masih makan berlama-lama dan memainkan makanannya maka hal tersebut tidak lagi dapat disebut wajar/normal tetapi merupakan suatu cara anak untuk menarik perhatian dan menentang dominasi orangtua.

Sama sekali tidak mau makan

Menumpahkan makanan

Menepis suapan dari orangtua

Tindakan Keliru yang Seringkali Dilakukan Orangtua

Beberapa tindakan yang sebenarnya keliru yang seringkali dilakukan orangtua dalam menghadapi situasi diatas misalnya:

Membujuk. Misalnya dengan kata-kata: “makan sayur bayamnya ya, biar kuat seperti popeye”, “kalau makannya habis nanti mama bilang sama papa kalau anak mama dan papa pintar loh”, dll.

Mengalihkan perhatian, misalnya: anak disuapi makan sambil menonton film atau sambil bermain-main

Memberi janji, misalnya: “kalau makannya habis, nanti mama belikan ice cream”

Mengancam, misalnya: kalau makannya tidak habis, nanti kalau ke dokter disuntik loh”

Memaksa, misalnya anak dipaksa membuka mulut lalu dijejali makanan

Menghukum, misalnya anak yang tidak mau makan langsung dipukul atau diperintahkan masuk kamar

Membolehkan anak untuk memilih menu makanan yang diingininya. Dalam hal ini orangtua biasanya akan langsung mengganti menu jika anak mengatakan bahwa ia tidak menyukai menu yang dihidangkan.

Tindakan yang Sebaiknya Dilakukan Orangtua

Dengan mengetahui bahwa nafsu makan anak digerakkan oleh jumlah makanan yang dibutuhkan tubuh, orangtua seharusnya menjaga nafsu makan anak dan memastikan bahwa anak mendapatkan kebutuhan tubuhnya. Para ahli psikologi anak sama sekali tidak menyarankan anak dipaksa untuk makan apapun penyebabnya, karena semakin dipaksa anak akan semakin memberontak.

Lalu apa tindakan yang sebaiknya dilakukan oleh orangtua untuk membuat anak mau makan dan tidak kekurangan sumber energi yang dibutuhkan tubuhnya? Berikut ini beberapa saran yang dapat anda lakukan jika menghadapi anak yang sulit makan:

Kurangi kudapan atau tidak memberikan kudapan sama sekali di antara jam makan. Termasuk di sini adalah pemberian susu kepada anak. Bagi anak yang memiliki nafsu makan sangat baik, pemberian kudapan maupun susu diantara jam makan masih diperbolehkan, tetapi harus dilakukan dengan jadwal tetap dan dosistepat sehingga tidak terjadi obesitas.

Menghidangkan menu yang bervariasi. Sama seperti orang dewasa, jika hampir setiap hari diberikan menu yang sama, maka anak akan bosan (meskipun menu yang diberikan merupakan menu favorit anak tersebut). Oleh karena itu, orangtua harus jeli dan pintar untuk memberikan menu yang bervariasi kepada anak. Misalnya: jika anak sudah sering diberi ikan cobalah mengganti ikan dengan ayam atau daging atau dapat pula diganti cara memasaknya.

Mempercantik tampilan makanan. Contohnya, dalam sebuah iklan di TV, ada orangtua yang menghidangkan nasi goreng dengan diberi gambar wajah, mata yang terbuat dari tomat, bibir dari sosis, dan hidung dari ketimun. Penampilan nasi goreng yang seperti ini akan lebih menarik perhatian bagi anak daripada nasi goreng yang terhidang begitu saja di piring tanpa hiasan.

Saat anak sedang merasa sedih, cobalah untuk terlebih dahulu membuat perasaan anak lebih baik dengan menunjukkan kasih sayang dan mencoba mengerti penyebab mengapa anak merasa sedih. Contoh: anak sedih karena kematian anjing yang disayanginya, maka bisa dihibur dengan mengatakan bahwa “anjingnya sekarang sudah sembuh, tidak akan pernah sakit lagi di tempat yang baru”.

Biarkan anak makan sendiri. Jangan takut dengan kekotoran yang disebabkan anak makan sendiri, karena yang penting di sini adalah anak merasa mampu, dipercaya oleh orangtua, semakin mandiri dan kemampuan motoriknya juga akan terlatih dan berkembang baik.

Jangan memburu-buru anak agar makan dengan cepat. Anak yang makannya berlama-lama, tidak perlu diburu-buru. Jika semua sudah selesai makan, meja sudah dibersihkan dan anak masih bermain dengan makanannya, maka sebaiknya makanannya disingkirkan. Anak mungkin akan merasa marah, jika hal ini terjadi orangtua tidak perlu berdebat ataupun memarahi anak, berikan perpanjangan waktu yang cukup, jika perpanjangan waktu sudah selesai maka makanan benar-benar ditarik dan tidak diberikan perpanjangan waktu lagi. Dengan demikian anak akan mengerti ada waktu untuk makan.

Tidak perlu setiap kali mengikuti keinginan anak dengan mengganti menu sesuai keinginannya, karena mungkin saja ketidaksukaannya disebabkan keinginan menentang dominasi orangtua. Sebaiknya tanamkan kesadaran pada anak bahwa makan adalah tugasnya, dengan tidak memuji jika makanan dihabiskan, dan juga tidak memarahi, mengancam, membujuk, menghukum, atau memberi label anak sebagai anak nakal jika makanannya tidak dihabiskan/tidak mau makan.

Jika anak tidak mau makan dan si anak berada dalam keadaan sehat, tidak apa-apa, singkirkan saja makanan dari meja makan, dan anak tidak perlu diberikan kudapan apapun di antara waktu makan utamanya. Dengan demikian, ketika tiba waktu makan selanjutnya anak akan merasa lapar (bukan kelaparan) dan ia pasti akan makan apapun yang dihidangkan.

Tidak perlu memberikan porsi yang banyak kepada anak, sehingga sulit dihabiskan. Lebih baik memberikan porsi yang sedang, jika anak merasa kurang, ia boleh minta tambah.

Berikan makanan secara bertahap sesuai jenis dan kandungan gizi satu persatu, mulai dari yang mengandung banyak zat besi dan protein (misalnya daging), sampai terakhir jenis yang kurang penting (misalnya puding sebagai penutup mulut). Jika anak merasa sudah kenyang sebelum sampai pada makanan tahap berikutnya, orangtua tidak perlu lagi memaksa anak untuk makan

Reaksi orangtua akan menentukan arah dan proses pembelajaran anak terhadap berbagai hal sampai mereka menemukan kesadaran dan tanggungjawab secara internal. Jika reaksi orangtua menguatkan perilaku sulit makan, maka yang terjadi kemudian adalah anak menjadi sulit makan. sebaliknya jika reaksi orangtua menguatkan perilaku mudah makan, maka anak mudah makan. Satu hal yang sebaiknya diingat orangtua adalah tidak mudah untuk selalu merespon perilaku anak secara tepat. Tulisan ini mungkin dapat menjadi suatu informasi yang berguna bagi anda para orangtua yang peduli terhadap kesejahteraan anaknya. Selamat mencoba

 

Posted by mamabumi in 02:45:17 | Permalink | Comments (4)

Wednesday, July 4, 2007

BaYi KuNinG alias JauNdicE.

kalo baca dari beberapa sumber tentang jaundice,… sebenernya ga ribet2 amat kok. kalo bayi terdeteksi “kuning” di 24 jam pertama,.. naah.. ini yang bahaya.. kalo.. ternyata “kuning”-nya baru nongol di hari ke-3 siih… katanya ga berbahaya… ini kan termasuk breastmilk jaundice…. kuning akibat kemampuan tubuh si beibi yang belum maksimal untuk menurunkan kadar bilirubin.

gimana kalo anakku kuning di hari ke-3?.. apa asi harus dihentikan trus di kasih sufor?..

dari pengalaman kemaren siih,.. kiera juga “kuning” pas mau pulang *alias hari ke-3,.. tapi karena eike punya kebetan,.. alhamdulilaah plus di-dukung sama dsa-nya….. alhamdulillah siih kiera = breastmilk jaundice,.. jadi terus ajah dikasih asi,.. asi.. n asi…. dan akhirnya ilang juga kok sekitar umur 1 bulan.

kebetan mamabumi tentang jaundice ini ada beberapa,.. diantaranya:
http://www.mayoclinic.com/invoke.cfm?id=DS00107
http://www.aap.org/family/jaundicefaq.htm
http://www.babycenter.com/refcap/89.html
http://www.kellymom.com/newman/07jaundice.html

tapi yang paling mamabumi seneng,.. adalah yang satu ini niih.. soalnya disitu jelas banget ada tabel umur bebi,.. trus kapan beibi di consider untuk di-sinar.. n kapan beibi emang harus di-sinar.. t.o.p. b.g.t deh!… http://www.postgradmed.com/issues/1999/11_99/melton.htm

selain itu,.. ini ada 1 email yang bener2 okeh,..di-posting sama dr wati, … bagus soalnya dan bener2 sejalan dengan referensi2 diatas….kalo mau ikutan milis-nya.. langsung aja kirim email kosong ke: sehat-subscribe@yahoogroups.com

BAYI KUNING - KURNIA, dll
thanks berat buat Yuli and samsul … alhamdulillah …
Kurnia .. selamat ya …
Kapan nih jumpa lagi … bosster pesat Bogor? hehehe
Bisa ELO kan ya
Saya bangga membaca emailmu .. sejuuk gitu lho …
Berasa ada manfaatnya gitu lho bersusah payah bikin PESAT dll hehehe
Buat SP semua … please baca GUIDELINE JAUNDICE atau kuning pada bayi baru
lahir, di AAP atau di web sehat. Jaundice of the newborn ini banyak banget
kelirumologinya, banyak juga violation nya, abused nya, overmedicated nya …
Pertama, bilirubin 10 … langsung foto terapi
Padahal, yang bahaya kan kuning di 24 jam pertama. Titik!
As simple as that!
Kita aja yang bikin jadi complicated dan “mengerikan”
Padahal, yang bahaya kan kuning pada bayi sakit berat (sepsis) atau pada bayi
prematur.
Jadi .. coba lihat tabel dan grafik kapan mesti consider phototerapy, kapan
mesti phototherapy
Bayi cukup bulan, bilirubin 13 hari ke 3 tapi anaknya nangisnya bagunin
tetangga, ngisep kuat … ya pulang!!
Kelirumologi kedua …. Bayi baru lahir otomatis diperiksa bilirubin. Padahal,
setiap mencucukkan jarum, kita potensial memasukkan infeksi
Kita hanya periksa kalau kuningnya muncul sebelum usia 24 jam … atau kalau
kuning banget
Bulan lalu saya menolong partus, hari ke3 suster kamar bayi periksa bilirubin
terus lapor, 11.9 katanya
Saya terus bertanaya, siapa yang suruh periksa bilirubin? Pulang!
Kelirumologi ketiga, suruh kontrol usia 7 hari, kelihatan masih kuning, periksa
bilirubin lagi!
Kalau di atas 10, suruh terapi sinar
Padahal, yang penting adalah perilaku dan tangis si bayi
17 sekalipun kalau anaknya aktif ya sudah saja …. kan breastmilk jaundice bisa
sampai 1 bulan lebih
Kelirumologi keempat, dikasih obat puyer … kebanyakan sih isinya Questran yang
kayak bubur itu …. padahal di pesat sesi RUD saya dan Bu Rina dan Samsul di
sesi jaundice berbusa2 ….. itu kan obat buat nurunin kolesterol … Gak
nyambung kan!
Makanya … please baca guideline kuning ya
Kelirumologi kelima … nih yang paling parah dan gak akan terjadi di belahan
dunia manapun …. diberi ALBUMIN!!!
Sedikitnya ada 2 RS di Jakarta yang memberikan albumin pada bayi kuning …
padahal albumin hanya diberikan untuk:
1. Luka bakar yang parah
2. Sirosis hati dengan asites yang hebat (cairan menumpuk di perut)
3. Sindrom nefrotik (kelainan ginjal)
Padahal, efek samping albumin tuh ngeriiii
antara lain, DIC (browsing deh ya khususnya Putu), edem paru
Dulu keponakan Ade novita juga dikasih albumin …. saya kasih buku keluaran tim
FKUI soal indikasi pemberian albumin pada anak .. hiks ./…
Kelirumologi keenam … bayi dijemur.
Ada email member milis 2 bulan lalu melaporkan di suatu RS swasta di jakarta
selatan bayi baru lahir di jemur di dek hehehe .. sudah saya sampaikan ke
ownernya …. tadi malam pas ketemuan … semoga gak ada lagi bayi dijemur
Posted by mamabumi in 07:03:42 | Permalink | Comments (2)

Friday, February 9, 2007

Sistem Ranking Kelas itu……….

mamabumi kan ikut milis sekolahnya bumi,… emang siih… cuman pernah posting 1 pertanyaan.. udah gituh jadi silent member… hehehe.. bukannya apa2…. di milis ini lebih banyak yang lebih senior.. *secara anak2nya udah kelas … SD,… bahkan smp.. dan bukan satu anak ajah di satu sekolah.. tapi ada moms yang nyekolahin 3 anaknya di 3 sekolah yang berbeda.. jadi.. mmmhhhh..bolehlah.. mambumi curi2 ilmunya..

senengnya,.. dimilis ini juga ada bapak haidar.. *kalo ga salah pendiri yayasan..*,.. trus ada wakil dari pihak sekolah… *guru2,  orang yayasan, dan tentu aja para parents*.. jadi mamabumi harusnya siih dapet banyak pencerahan dari perspektif yang berbeda2.. (caelaaah….)

salah satunya artikel n tanggapan yang satu ini deh… kayaknya mamabumi kudu posting di blog.. biar nanti.. kalo mamabumi lupa.. bisa baca2 artikel ini lagi….

soalnya…. sekarang ajah.. jadi bingung lagi mau ngarahin bumi ke sekolah apa… apa cari sekolah yang pake standar nasional alias depdikbud… or sekolah pake metode”internasional”…..  *ya elaah.. pra tk ajah baru 7 bulanan.. tapi udah bingung ntar cari smp/sma n kuliah di mana…* (eleuh.. eleuh…..)

Sistem Ranking Kelas Banyak Dampak Negatifnya

Saat pembagian rapor semester I lalu, tidak sedikit orang tua siswa L****** yang bertanya mengapa dalam rapor tidak dicantumkan ranking anak mereka di kelas dan nilai rata-rata kelas anak mereka. Padahal banyak sekali dampak negatif dari pencantuman ranking kelas dan nilai rata-rata kelas ini ketimbang dampak positifnya.

Pencantuman ranking dan nilai rata-rata kelas dalam rapor siswa bagi masyarakat umum memang dianggap sebagai bentuk komunikasi yang paling mudah dicerna baik oleh siswa sendiri maupun orang tuanya. Siswa dan orang tuanya seringkali merasa tidak puas jika dalam rapor seorang siswa tidak tercantum ranking dan nilai rata-rata kelas. Tanpa keduanya, mereka jadi merasa tidak dapat mengikuti perkembangan kemajuan belajar siswa tersebut.

Padahal pencantuman ranking dan nilai rata-rata kelas tidak berarti apapun selain hanya sekedar memperlihatkan posisi relatif prestasi siswa selama periode waktu tertentu di antara teman-teman sekelasnya, tidak lebih. Sehingga tidak dapat dijadikan alat ukur perkembangan kemajuan belajar siswa. Karena ranking tertentu di kelas yang satu belum tentu setara dengan ranking yang sama di kelas yang lain, ranking tertentu di sekolah yang satu belum tentu setara dengan ranking yang sama di sekolah yang lain.

Yang ada, ranking malah kerap diasosiasikan secara emosional, dijadikan determinan yang menunjukkan apakah seorang siswa termasuk pandai atau tidak. Siswa yang mendapat ranking baik tidak jarang merasa tinggi hati karena merasa dirinya sudah hebat, telah berhasil “mengalahkan” teman-teman sekelasnya. Padahal belum tentu ia telah mengerahkan kemampuan maksimalnya. Ini dapat melahirkan persaingan yang tidak sehat di antara para siswa. Siswa tidak lagi belajar demi pengetahuan itu sendiri, tapi lebih untuk meraih ranking yang bergengsi di kelasnya.

Mungkin inilah salah satu penyebab mengapa siswa hanya berusaha menguasai pelajaran sampai waktu ujian saja. Setelah ujian, pelajaran yang telah dihafal biasanya menguap lagi. Siswa menjadi tidak sadar bahwa apa yang dipelajari itu sesungguhnya sangat berarti untuk bekal masa depan mereka kelak.

Sementara siswa-siswa yang peringkatnya buruk tidak sedikit yang terlalu cepat menilai dirinya tidak mampu, tidak kompeten, sehingga bersikap pasrah dan tidak lagi termotivasi untuk belajar dengan keras. Mereka jadi tidak percaya diri dan memiliki self-esteem (baca: harga diri) yang rendah. Lebih jauh lagi, mereka bisa dikucilkan teman-teman sebayanya sehingga dapat membahayakan kehidupan sosial mereka. Ranking dapat menjadi penentu diterima atau tidaknya seseorang dalam pergaulan di antara teman-temannya.

Ranking dan nilai rata-rata kelas diperoleh dengan membandingkan nilai setiap anak dengan nilai anak-anak lain di kelasnya. Padahal sangatlah tidak adil jika seorang anak dibanding-dibandingkan dengan anak-anak lainnya karena setiap anak mempunyai keunikan, kelebihan, dan kekurangan masing-masing. Yang lebih fair adalah membandingkan anak dengan potensinya sendiri.

Jika orang tua dan guru melihat bahwa anak telah memberikan usaha terbaiknya, apresiasilah berapapun nilai yang diperolehnya karena berarti ia telah mengerahkan kemampuan maksimalnya. Sebaliknya, jika orang tua dan guru melihat bahwa anak belum mengunjukkan upaya terbaiknya, doronglah anak untuk mengaktualisasikan secara maksimal potensinya. Dengan demikian berarti orang tua dan guru mendidik anak dan diri mereka sendiri untuk lebih menghargai proses daripada hasil.

eka kurnia hikmat

Komentar Pak Haidar - Pendiri Yayasan L****** H******

Terima kasih Bu Eka. Saya ingin menggarisbawahi :

” … sangatlah tidak adil jika seorang anak dibanding-dibandingkan dengan anak-anak lainnya karena setiap anak mempunyai keunikan, kelebihan, dan kekurangan masing-masing. Yang lebih fair adalah membandingkan anak dengan potensinya sendiri …”

Maksudnya, saya kira, tugas pendidikan adalah untuk mengudar dengan semaksimum mungkin potensi anak didik. Asumsinya, semua anak memiliki kecerdasan dan potensi-uniknya sendiri. Kalau pun anak tidak cerdas di segala bidang — misal, slow learner, dsb. — makin tidak bermanfaat dan malah merugikan membandingkan prestasinya dengan anak-anak lain — antara lain berdasar alasan psikologis seperti yang ditulis dalam artikel.

Mungkin kekhawatirannya anak tak memiliki jiwa kompetitif, jika tidak diranking. Pertama, sistem ranking bukan satu-satunya cara memotivasi anak didik. Kedua, jiwa kompetitif perlu dipupuk dengan mendorong anak didik bersaing di bidang yang paling dikuasainya, dengan anak lain yang menguasai bidang yang sama. Bukan dengan menggunakan kriteria kemampuan rata-rata seperti yang dilakukan dalam sistem ranking kelas.

Sistem ranking kelas masih berdasar asumsi lama bahwa kecerdasan bersifat tunggal, bukan majemuk — seperti difahami dalam paradigma multiple intelligences. Dalam paradigma MI, bisa saja seorang anak hanya cerdas di 1-2 bidang sementara di bidang lain tidak istimewa, atau malah rendah. Sistem rata-rata, dalam paradigma baru ini, tidak bisa diterima. Banyak sekali orang besar yang cerdas di satu bidang, tapi jeblok di bidang lain. Akan saya kirimkan pada posting terpisah, tabel “high achieving people facing personal challenges” yang dibuat dalam rangka mendukung paradigma multiple intelligences tersebut

Mudah2an bermanfaat.

Komentar Bapak Denny Tunner - Sekr Yayasan L***** H****** 

Assalamualaikum wr w b. anggota milis yth, mohon maaf saya lama jadi silent member saja, kali ini kok “gatal” untuk menulis serba sedikit. kalau ada kesalahan mohon dimaafkan.

setiap orang tua tentu berharap anaknya menjadi “smart survivor” di kemudian hari. konteks “survivor” tentu mensyaratkan adanya kecakapan khusus.

baru saja beberapa hari lalu saya bertemu dengan kawan saya, yang sangat resah karena “matematika anakku buruk sekali, dan entah bagaimana sampai saya hopeless mengajar anakku” setengah bergurau saya katakan pada kawan saya terhormat tsb: “mungkin sudah waktunya dirimu menterapi diri sendiri, bukan mengajar anakmu matematika.” saya ajak kawan satu itu melakukan “quick assessment” dengan pendekatan multiple intelligence.

mari kita lihat, multiple intelligence menjabarkan smart menjadi beberapa, antara lain: - word smart - number smart - people smart - self smart - body smart - music smart - spiritual smart (saya lupa, lengkapnya sudah ditemukan 9 dari awalnya 7, dan mungkin bertambah lagi).

ternyata kawan satu itu terhenyak menyadari bahwa walau tampaknya anaknya tidak number smart, sang anak (menurut penilaian sang ibu ini) memiliki people smart, word smart, music smart, dan body smart. “lha mengapa kamu worry kalau anakmu MENURUTMU tidak smart di satu aspek, namun smart di empat aspek lain?”

“iya, dulu saya matematika saya buruk, saya tidak ingin anak sayapun demikian.” “lha itu namanya proyeksi, kalau meminjam istilah psikologi. apa daya tangan tak sampai, anak yang diminta menjemput cita-citamu, walau mungkin inner voice sang anak bukan ke situ pula…”

kompetisi bukan satu-satunya cara memantau dan melihat apakah anak nantinya jadi smart survivor. konsistensi dan ketuntasan juga sangat diperlukan daripada sekedar menjadi “pemenang”.

anak saya yang terbesar kelas 5 SD. belajar renang sejak TK. saya lihat, kalau gaya bebas kok tangannya belum bagus betul (menurut pandangan saya yang awam, dan juga bukan perenang). saya tanya gurunya “itu kok tangan anakku belum bagus, dibiarkan saja” jawab gurunya “tunggu 2 tahun lagi pak, kalau dia sudah tumbuh lebih besar dan tulang serta perototannya lebih siap, dengan sendirinya tangannya akan bagus. tidak bisa dipaksakan sekarang.”

subhanallah. 7 tahun untuk menguasai satu gaya. dan anak saya, selalu berbinar kalau waktunya les renang. hujanpun kalau tidak sakit selalu minta berangkat ke kolam renang.

padahal kalau soal kompetisi? terakhir dia ikut kejuaraan nasional, satu tahun lalu. dari 153 peserta, dia mencatat angka yang fantastis: nomor 15 dari bawah! dia bersusah payah untuk bisa menyelesaikan lomba tersebut.

saya tanya,bagaimana rasanya selesai bertanding. dia bilang “saya senang. waktu saya lebih baik daripada pertandingan sebelumnya.” padahal dibanding juara satu, yang memecahkan rekor kelompok umur, waktunya dua kali lipat lebih lama.

saya tanya lagi “mau ikut lagikah kejuaraan renang yang lain” jawabnya “iya dong. saya suka berenang.”

ada kawan lain, menghentikan anaknya dari les balet.

saya tanya, apa alasannya, dan bagaimana komentar anaknya. jawabnya “anakku tidak punya bakat. tidak maju-maju” sedangkan komentar anaknya “bunda mengapa aku berhenti les baletnya?” saya tanya lagi, berapa kali anak itu bertanya pada ibunya. “beberapa kali, selama satu bulan, anakku bertanya beberapa kali, pertanyaan yang sama”.

saya katakan “maaf kawan, mungkin saja engkau telah merampas anakmu dari kecintaannya menari.” dia berkata “tapi anak saya tidak punya bakat. dia tampaknya tidak bisa menjadi prima ballerina” saya goda “kamu guru baletkah?” “ya bukan lah”. “kalau bukan, bagaimana kau tahu anakmu tak berbakat?” l

ebih lanjut saya katakan “saya punya adik-adik, dan teman-teman yang menari sejak kecil. mereka menari selama belasan tahun. setiap pertunjukan, mereka menjadi penari-penari latar, bukan penari utama. mereka MENCINTAI menari.”

contoh-contoh kasus di atas adalah contoh sederhana dimana kita, para orang tua yang perlu merevisi alam pikir dan sudut pandang kita yang mungkin saja terlalu “single minded” dalam melihat perkembangan anak.

menggunakan DIRI KITA sebagai tolok ukur “kinerja” anak. kalau kita ingin anak-anak kita belajar secara optimal, tugas kita para orang tua yang pertama-tama melakukan “unlearning”, termasuk di dalamnya paradigma bahwa

- kalau tidak juara, berarti …………………. (isi sendiri lanjutannya).

- kalau anak tidak sesuai harapan kita, berarti …………………. (isi sendiri lanjutannya).

hal-hal di atas sama saja dengan mengatakan kepada anak “i love you, with the condition that you ………………… (isi sendiri lanjutannya)”.

kasihan anak-anak ya, mau dicintai saja harus ada pra kondisi :) ini hal yang halus, samar, sehingga seringkali kita orang tua “overlook” hal-hal ini, dan tanpa sadar menciptakan ekspektasi dan tuntutan pada anak yang mungkin tidak pada tempatnya. mohon maaf jika ada yang tidak berkenan.

wassalam, denny turner

Posted by mamabumi in 05:58:56 | Permalink | Comments (4)

Thursday, April 20, 2006

sUSu LaGI!!….

berhubung kemaren ada pertanyaan tentang susu dari beberapa temen,…. akhirnya mamabumi kirim imel ke ULTRAJAYA,…. lamaaaa.. banget ga di-reply2… *kirain gemanaaa.. getooh….* tau2 siang ini dapet imel dari mba sinta,.. customer service- Publlic Affair Department…

Pertanyaan yang diajukan ada 3:

1. terangkan cara pembuatan dari mulai awal produksi sampai pemasaran

2. kalo bisa di kasih reaksi pembusukan atau proses nya.

3. ada satu komentar bahwa susu yang paling segar adalah susu dari KBPS Pangalengan. nah kira2 asal susu murni yang ultra pakai di-supply dari mana yaaa?..

nah… terutama untuk mba siska, pak iqbal dan pak kresno,.. ini tanggapan dari pihak ULTRAJAYA-nya looo…

*sssttt… asli,.. mamabumi ga ada hubungan apa2 sama ULTRA,.. boro2 punya saham,..kenal ajah engga….. hehehe…. cuman jadi customer ajah lah yaaaw…. hehehe.. kalo persediaan susu abis,.. tinggal sms or telepon distributornya deh.. ntar langsung diantar (dengan catatan bukan hari sabtu/minggu/libur….*

********

Menanggapi pertanyaan dari Ibu maka dengan ini kami akan menjelaskan mengenai:

I) Proses Produksi Susu Ultra:

- Susu sapi segar yang berkualitas tinggi yg diperah dari sapi yg sehatdiambil dari koperasi peternakan yang ada di Lembang dan Pengalengankemudian langsung didinginkan dengan suhu 4C (agar bakteri tidak cepat berkembang biak)

- Kemudian Susu segar tersebut dikirim ke PT. Ultrajaya dengan menggunakan

truk tangki khusus, setelah sampai lalu diambil sample untuk diuji mutulengkap baik secara fisik, kimia maupun mikrobiologis. Setelah dinyatakansesuai dengan standar PT. Ultrajaya lalu susu dimasukkan ke dalam clarifier (tangki penyaring) untuk menyaring kotoran dan bau-bauan (bau amis susu)

- Setelah itu susu dan bahan campuran lainnya (Mis: untuk membuat susu Coklat diperlukan gula & bubuk coklat) dimasukkan kedalam tangki pencampuran kemudian dicampur/diolah sampai +/-10menit. Lalu dimasukkan kedalam tangki Homogenizer untuk dihomogenisasi agar semua bahan baku dan bahan campuran lainnya lebih homogen/menyatu, teksturnya lebih halus dan rasanya lebih merata. Kemudian di lakukan uji standarisasi.

- Setelah itu dilakukan proses terpenting yaitu sterilisasi UHT (Ulta High Temperature) dimana susu dipanaskan dengan suhu 140C selama 4 detik. Suhu tinggi tersebut terbukti dapat mematikan semua mikroorganisme (bakteri) penyebab kerusakan, dan waktu pemasan yang sangat singkat dapat membuat kualitas kandungan nutrisi pada susu segarnya tetap terjaga. Setelah disterilisasi susu didinginkan sampai mencapai suhu ruang.

- Baru kemudian susu dimasukkan ke dalam kotak kemasan aseptik (bebas bakteri)yg terdiri dari 6 lapisan. Bahan penyusun kemasan terdiri dari plastik polyethylene, kertas dan alumunium foil, yang mampu melindungi produk didalamnya dari udara luar, cahaya, lembab, aroma luar dan mikroorganisme. Pengemasan dilakukan dengan mesin yang serba otomatis, tertutup dan didalam ruangan yg steril.

- Setiap kemasan kemudian melewati alat sensor otomatis pencetak kode produksi dan tanggal kadaluarsa. Baru kemudian dipasang sedotan ataupun tutup plastik. Dan Dikemas ke dalam karton box dengan menggunakan mesin otomatis dan disusun diatas papan-papan palet secara robotik dengan robot paletizer.

- Kemudian produk dikirim ke Gudang penyimpanan untuk disimpan selama 8 hari sambil menunggu hasil uji mutu lengkap terhadap sampel diambil secara acak pada saat produksi yaitu 10 pack setiap 10 menit. Apabila telah dinyatakan lolos uji mutu lengkap maka produk baru boleh dipasarkan.

- Keseluruhan proses selalu dilakukan uji mutu lengkap mulai dari bahan baku, selama proses produksi dan sampai ke Produk jadi.

-Produk Ultrajaya selain dijual untuk pasaran lokal juga diekspor sampai ke Amerika, Belanda, Arab, Filipina, Afrika, Korea, dll.

- Pemasarannya diakukan dengan dua (2) cara:

a. Direct Selling : melalui Modern Trade (seperti Hero, Carrefour, dll),Institusi, Traditional Trade

b. Indirect Selling : melalui Distributor yang tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia.

Untuk Distribusi kita memiliki 6 Kantor cabang/perwakilan pemasaran yg terletak di Wilayah Pulau Jawa dan 3 Depo. 65 Distributor, 2500 grosirtersebar dikota-kota besar di Indonesia dan 25.000 toko retail

II) Reaksi Pembusukan:

Pada umumnya kerusakan susu diakbatkan oleh aktivitas Mikroorganisme dimanamikroorganisme dapat merombak senyawa di dalam susu, contohnya: Bakteri Asam Laktat yang merombak Laktosa di dalam susu menjadi asam laktat sehingga terjadi perubahan rasa dari susu segar menjadi masam/basi.

Sementara proses susu menjadi basi adalah bertahap dan biasanya ciri-ciri dari susu basi dapat diketahui dari: aromanya yg saat dicium mengeluarkan bau tidak sedap, rasanya asam/kecut/pahit, warnanya berubah kekuningan atau keruh, teksturnya sendiri ada yg menggumpal atau ada juga yg mengalami separasi.

III) Memang benar susu yang paling segar adalah bukan susu Olahan, karena asumsinya adalah masih fresh. Perlu kami jelaskan disini bahwa komposisi susu Ultra terbuat dari susu sapi segar yang tidak berbeda dengan susu KPBS karena memang bahan baku susu Ultra sendiri berasal dari susu sapi murni yang dipasok dari KPBS Pengalengan dan KPBU Lembang.

Keunggulan dari susu Ultra adalah karena telah melewati proses sterilisasi UHT dimana setelah melewati proses ini semua bakteri yang ada dalam susu sudah dimatikan sehingga walaupun tanpa menggunakan bahan pengawet susu dapat awet selama 10 bulan(selama kemasan masih tertutup/tidak bocor) tanpa perlu dimasukkan kedalam kulkas cukup disuhu ruang dan kandungan gizi yang terdapat didalamnya relatif tidak berubah. Sementara untuk susu KPBS yang biasanya kita temukan dalam bentuk susu bantal merupakan susu segar yang sudah di pasteurisasi yang mana proses ini hanya mematikan bakteri patogen (bakteri perusak) tetapi bakteri yang lain tidak mati sehingga susu ini harus tetap dimasukkan kulkas (tetap dingin) untuk mencegah perkembangbiakkan bakteri yg lain.

Demikian penjelasan dari kami, semoga bermanfaat bagi Ibu dan rekan-rekan.Kami harap informasi ini dapat memberikan pencerahan yang baru dan tambahan pengetahuan bagi Ibu dan rekan-rekan. Jika masih ada pertanyaan ataupun masukan yang bermanfaat bagi PT. Ultrajaya mohon jangan sungkan untuk menghubungi kami kembali. Terimakasih.

Hormat Kami,

Sinta Dwipuspita (Customer Serv.Officer-Public Affairs Dept.)

Posted by mamabumi in 10:55:25 | Permalink | Comments (20)

Wednesday, February 22, 2006

kok anakku susah makan yaa?…

beberapa hari terakhir.. hehehe…seperti biasa.. mamabumi berkutat dengan masalah bumi yang mogok makan….

trus dimilis sehat,.. banyak member baru *akibat artikel di kompas kemaren* yang juga banyak yang tanya tentang knapa anaknya susah makan..

dan taraaa.. terakhir nena kirim imel japri.. tanya tentang anaknya yang susah makan pula..trus.. inget2 nih.. dulu.. rasa2nya di milis sehat, mba luluk.. *one of mods sehat* pernah tulis serba serbi anak susah pakan dan tips-nya…

wadduuh.. pas dicari2 di arsip, kok ga ada yaa… tapi  *triing.. triiing*… mba luluk tiba2 kemaren posting di milis.. hehehe.. padahal mamabumi ga request khusus loooo…..dan karena tips-nya bagus banget.. mamabumi pengen posting artikel tersebut disini.. biar nanti..gampang kalo cari2 lagi..

tengkiu berat ya mba luluk.. btw,… mba luluk ini TOP BGT banget,.. selain nulis yang dibawah ini,..blio juga nulis tentang “slow weaning” or tentang seputar asi… menurut mamabumi pribadi siiih… OK ABIS… soalnya ga semata2 didasarkan pada pendapat/pengalaman pribadi ajah.. tapi juga “belajar” dari hasil searching2 di internet dari situs2 yang reliable.

ga percaya?.. coba aja simak 1 artikel yang satu ini deh…..

Serba-serbi penyebab anak susah makan & tips praktis mengatasinya
(Ditulis bebas & dirangkum dari berbagai sumber oleh Luluk Lely Soraya I)

Problema sulit makan ini dialami anak di usia balita. Umumnya mulai ditemui pada usia anak 1-4 th. Banyak hal yang menyebabkan anak susah makan. Karena bagi anak, saat makan itu bukan hanya pemenuhan gizi tetapi juga saat penuh tantangan, rasa ingin tahu, berlatih, belajar, dsb.

Berikut sekilas bahasan penyebab anak susah makan & tips singkat mengatasinya :

1. Bosan dengan menu makan ataupun penyajian makanan.
Menu makan saat bayi (> 6 bl) yg itu-itu saja akan membuat anak bosan dan malas makan. Belum lagi cara penyajian makanan yg campur aduk antara lauk pauk spt makanan diblender jadi satu. Sama spt orang dewasa, kalau kita makan dg menu yg sama tiap hari dan disajikan dg campur aduk, pasti akan malas makan.

Begitu juga dg pengenalan makanan kasar.

Tips : Tentu saja variasikan menu makan anak. Jika perlu buat
menu makan anak min. selama 1 minggu utk mempermudah ibu mengatur variasi makanan. Jadi tergantung pinter-pinter-nya ibu memberikan makanan bervariasi. Spt kalau anak gak mau nasi, kan bisa diganti dg roti, makaroni, pasta, bakmi, dsb.

Penyajian makanan yg menarik juga penting sekali. Jangan campur adukkan makanan. Pisahkan nasi dg lauk pauknya. Hias dg aneka warna & bentuk. Jika perlu cetak makanan dg cetakan kue yg lucu.

2. Memakan cemilan padat kalori menjelang jam makan, sehingga
anak tidak merasa lapar. Seperti permen, minuman ringan, coklat, hingga snack ber-MSG, dsb. Akibatnya ketika jam makan tiba anak sudah kekenyangan.
Tips : Atur makanan selingan atau cemilan jauh sebelum waktu
makan tiba. Beri juga cemilan yang sehat spt potongan buah, sayur kukus, keju, yoghurt, es krim, cake buatan ibu, dsb.
3. Minum susu terlalu banyak
Susu di banyak keluarga dianggap sebagai makanan “dewa” yang bisa menggantikan makanan utama spt nasi, sayur & lauk pauknya

Orangtua cenderung kurang sabar memberikan makanan kasar.

Atau orang tua sering takut anaknya kelaparan, sehingga makanan diganti dengan susu..Akhirnya, daripada perut si anak tidak kemasukan makanan, diberikan saja susu berlebihan. Padahal setelah anak berusia 1th, kehadiran susu dalam menu sehari-hari bukanlah hal wajib. Secara gizi, susu hanya untuk memenuhi kebutuhan kalsium dan fosfor saja. Kan kalsium dan fosfor ini dengan mudah kita dapatkan dalam ikan-ikanan, sayur & buah.

Tips : Kurangi susu ! Di atas usia 1 tahun kebutuhan susu hanya 2
gelas sehari. Mulailah melatih anak dg berbagai jenis makanan. Ubah pola pikir orangtua.
 
4. Terpengaruh kebiasaan orang tuanya.
Anak suka meniru apa yang dilakukan oleh anggota keluarga lainnya, terutama orang tuanya. Banyak perilaku yg dilakukan ortunya ygmempengaruhi perilaku makan anak. Mis. anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang malas makan (ex. diet), akan mengembangkan perilaku malas makan juga. Perilaku lainnya, sering kita jumpai orang tua masih menyuapi anak yang sudah kelas V SD. Akibatnya anak gak terlatih untuk bisa makan sendiri.

Perilaku makan yang kurang pas juga spt kebiasaan ortu ketika menenangkan anak yg sedang rewel dengan cara membelikan jajanan yang padat kalori (permen, minuman ringan, coklat, dsb.). Akibatnya anak kekenyangan & malas makan.

Tips :
Perhatikan & ubah kebiasaan & perilaku orang tua kapanpun, termasuk perilaku makan. Ingat, anak merekam, belajar & menerapkan semua hal yg ia dapat dari lingk sekitarnya, terutama ortunya. Biarkan anak mencoba memakan makanan sendiri sejak dini, tanpa disuapi. Gak perlu takut berantakan. Feeding is about learning.
 
5. Munculnya sikap negativistik è fase normal yg dilewati tiap anak.
Pada usia >2 th, anak sering “membangkang”/ tidak mau patuh. Saat makan tiba, anak terkadang bilang “gak mau”, makanannya suka dilepeh atau dilempar, dsb. Ini disebut sikap negativistik.

Sikap negativistik merupakan fase normal yg dilalui tiap anak usia balita. Sikap ini juga suatu bagian dari tahapan perkembangannya untuk menunjukkan keinginan untuk “independent”. Jadi batita umumnya ditandai dengan “AKU”, artinya segala sesuatunya harus berasal dari AKU bukan dari orang lain; intinya “power”.

Nah banyak ortu yg gak memahami hal ini, sehingga lantaran khawatir kecukupan gizi anak tidak terpenuhi, orang tua biasanya makin keras memaksa anaknya makan. Ada ortu yg mengancam anaknya bahkan memukul. Cara2 tsb harus dihindari.

Justru semakin anak pd usia ini dipaksa, justru akan makin melawan (sebagai wujud negativistiknya). Realisasinya apalagi kalau bukan penolakan terhadap makanan. Bisa dimaklumi kalau ada orang yang sampai dewasa emoh makan nasi atau sama sekali tak menyentuh daging. Bisa jadi sewaktu masih kecil yang bersangkutan sempat mengalami trauma akibat perlakuan orang tuanya yang selalu memberinya makan secara paksa.

Tips : Pahami kondisi anak dg baik. Jadilah ortu yg otoritatif. Artinya bersikap tidak memaksa, tetapi juga tidak membiarkan begitu saja. Bina komunikasi yg baik dg anak. Bersabarlah menghadapi anak. Kan rumah adalah “madrasah” pertama & utama bagi anak.

5. Anak sedang sakit / sedih
Anak tidak mau makan dapat juga disebabkan krn anak sedang sakit atau sedang sedih. Kalau semula anak terlihat aktif, riang dan “cerewet”, maka di kala sakit ia lebih suka diam dan terlihat malas-malasan.

Tips : Kembali pada konsep bina komunikasi yg baik. Jangan paksakan anak kalau gakmau makan. Beri makanan ringan yg padat kalori, spt makaroni skutel, dsb.

Yg jelas dan perlu diingat baik2 oleh tiap ortu adalah

Seberapapun anak gak mau / susah makan, ia tidak akan membiarkan dirinya kelaparan ! Selama mentalnya sehat.

Artinya, begitu ia kelaparan, maka ia akan makan.

Tetap kreatif mengolah & menyajikan makanan, bina komunikasi yg baik, terus belajar menjadi ortu & memahami kondisi anak, dan bersabar.

Diambil dari artikel :
· Majalah Intisari : “Anak Sulit Makan? Kurangi Susu! “.
· Kompas Media : “MENGENAL SELERA MAKAN ANAK” (http://www.kompas.com/wanita/news/0408/10/185144.htm)
· Artikel “Anak Makan Salah Ortu” (http://www.indomedia.com/intisari/1998/agustus/ogah.htm)
· Keepkidshealthy.com : “Feeding Your Toddler”
(http://www.keepkidshealthy.com/toddler/feeding_your_toddler.html)
· British Columbia Ministry of children and families : “Feeding your toddler with love and good food”
· Keepkidshealthy.com : “Food Guide Pyramid”
 
 
Posted by mamabumi in 02:45:43 | Permalink | Comments (10)

Berjuang menjadi Orangtua yang CERDAS…

dari sekian banyak artikel mengenai “SEHAT GROUP” yang pernah dimuat di media massa… misalnya jakarta post, koran tempo, media indonesia…. menurut mamabumi artikel yang di-posting di kompas tanggal 19 februari 2006 di halaman 34 (1 halaman full bo’).. ini adalah artikel yang paling the best..

ditulis oleh mba sarie febrianie.. yang kemaren sempet “heboh” karena nulis di friendster tentang “arogansi moge”… kalo ga salah sii.. beliau juga member sehat juga.. abis namanya familiar banget gituh….

dibawah ada 2 artikel loo….

sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0602/19/keluarga/2441191.htm

Berjuang Menjadi Orangtua Cerdas
SARIE FEBRIANE
 
Berawal dari keprihatinan menghadapi situasi masa kini, sebagian orangtua
bersatu membentuk komunitas. Tekadnya sederhana, mencerdaskan sesama
orangtua agar terhindar dari “kesesatan”. Mereka berusaha menjadi orangtua
kritis yang tak begitu saja menerima resep dokter, atau terbujuk iklan.
Mungkin beginilah paradoks zaman modern, ketika arus kehidupan
dikendalikan konsumerisme. Kekuatan bujukan iklan sering kali membuat
seseorang merasa tak berdaya. Apalagi bagi orang yang tak punya akses cukup
untuk mendapatkan informasi mengenai berbagai produk tersebut. Kalau sudah
begini, apa yang diklaim dalam iklan sering kali menjadi hal yang dipercaya
begitu saja.
 
“Anak-anak sering menjadi obyek penderita kesalahpahaman. Sebab itu, yang
dicerahkan harus orangtuanya. Dengan mailing list, kami bergerilya,” tutur
Purnamawati S Pujiarto SpAK, MMPed yang mengampanyekan penggunaan obat
secara rasional (rational use of drug/RUD) kepada konsumen medis.
Selama tiga tahun terakhir ini, Wati, demikian sapaannya, berusaha
membina dan mencerdaskan para orangtua melalui komunitas maya yang diberi
nama Grup Sehat. Moto komunitas ini “be smarter be healthier”. Upayanya,
yang telah tahunan dirintis, didukung Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Ibu
empat anak ini juga menjadi salah satu konsultan WHO.
 
Kini, pada mailing list sehat@yahoogroups.com telah tercatat 3.218
anggota dari penjuru Indonesia hingga yang bermukim di luar negeri. Para
orangtua dapat berkonsultasi bebas dengan Wati dan sejumlah dokter lain,
sampai dibimbing mempelajari ilmu kesehatan terkini dari berbagai situs
terpercaya.
 
Pujiati (29), yang tinggal di Surabaya, dulu kerap bolak-balik ke dokter
anak karena putranya, Bagas (24 bulan), sering sakit. Setiap kali sakit
Bagas selalu diberi antibiotik serta obat berbentuk puyer. Ketika itu dia
belum paham, antibiotik tak diperlukan untuk pengobatan batuk pilek pada
anak-anak yang umumnya disebabkan virus.
 
Virus dapat dilawan dengan meningkatkan daya tahan tubuh. Kalau penyakit
itu disebabkan bakteri, baru diperlukan antibiotik. Sebagian dokter bahkan
sering memberikan antibiotik paling ampuh, mahal, yang sebenarnya justru
antibiotik spektrum luas (broad spectrum). Akibatnya, beragam bakteri yang
tergolong baik pun turut tergilas.
 
“Setelah bergabung dengan Grup Sehat, saya baru menyadari semua praktik
itu kelirumologi alias salah. Kini, kunjungan ke dokter anak sangat jarang,
dan anak saya sehat. Kalau batuk pilek cukup home treatment saja. Banyak
minum air putih hangat, makan makanan yang disukainya, dan istirahat. Kalau
demam, saya kompres dia dengan air hangat atau minum obat penurun panas
saja. Enggak perlu antibiotik dan suplemen,” tutur Pujiati.
 
Tak mudah bagi Pujiati menularkan pengetahuan itu kepada suaminya. Sang
suami malah sempat mengira komunitas yang diikutinya beraliran aneh. Orang
awam memang kerap mengira komunitas ini anti-obat, anti-antibiotik, bahkan
anti-dokter. Padahal sama sekali tidak. Koridor konsep RUD-lah yang menjadi
pegangan Grup Sehat.
 
Antibiotik itu anugerah kehidupan, harus dieman-eman (disayang-sayang).
Ketika kita betul-betul membutuhkan antibiotik, dia adalah penyelamat
jiwa,” ujar Wati yang kini mendirikan Yayasan Orang Tua Peduli.
Penggunaan antibiotik secara tidak rasional justru memunculkan bermacam
bakteri yang bermutasi, dan resisten terhadap antibiotik (superbugs).
 
Sementara penemuan antibiotik baru tidaklah secepat perkembangan munculnya
bakteri baru. Semakin sering menggunakan antibiotik secara tak rasional,
malah menyebabkan anak sering jatuh sakit. Belum lagi risiko seperti
gangguan hati pada anak, seperti kerap ditemukan Wati, yang juga ahli
hepatologi anak ini.
 
Proses menyenangkan
Selain RUD, para anggota komunitas juga memperoleh informasi obyektif
menyangkut pemenuhan gizi anak, serta problem klasik seperti anak susah
makan. Tipikal sebagian orangtua masa kini yang tergopoh-gopoh menjejali
anak dengan obat ketika jatuh sakit biasanya diikuti pula dengan memberi
anak berbagai suplemen penambah nafsu makan dan susu formula.
 
“Beredarnya susu bubuk yang mengklaim bisa menjadi pengganti makanan
lengkap juga banyak dipahami orangtua secara sesat. Padahal, makan itu
proses belajar, eksplorasi, yang penuh dengan unsur hiburan. Sebagian
orangtua sering mengambil cara praktis ketimbang bereksperimen dengan menu
agar disukai anak,” kata Wati.
 
Gempuran iklan susu formula di media massa juga dapat mendoktrin sebagian
orangtua bahwa anak harus minum susu formula. Padahal, bayi hingga usia
enam bulan harus eksklusif minum air susu ibu (ASI). Usia di atas satu
tahun, selain ASI, bayi cukup diberi susu sapi cair tanpa pengawet, yang
telah disterilisasi dengan teknik ultrahigh temperature (UHT) atau
pasteurisasi. Aneka susu yang menyebut ditambahi berbagai zat penting untuk
perkembangan otak hanyalah klaim yang tidak berlandaskan prinsip ilmiah
evidence based medicine (EBM).
 
“Di luar negeri, anak di atas satu tahun masih minum formula akan
ditertawakan tenaga medis. Di atas satu tahun, susu bukan segalanya. Gizi
anak terutama dari makanan. Orangtua harus paham piramida makanan. Siapa
bilang anak harus gemuk, yang penting anak itu sehat,” tutur Wati yang
prihatin dengan praktik pemasaran susu formula yang, menurut dia, semakin
tak etis.
 
Yosi Kusuma Ningrum (27) mengaku dulu sempat termakan iklan susu formula.
Susu berharga ratusan ribu rupiah itu dibelinya demi sang buah hati. Agen
pemasaran susu formula kerap meneleponnya, membujuk dia agar anaknya diberi
susu formula supaya gemuk.
 
“Sekarang enggak lagi. Mendingan uangnya ditabung untuk pendidikan anak
kelak. Tetapi orang-orang, bahkan keluarga sendiri, sering sinis. Mereka
bilang, kok anakku dikasih susu murah, padahal kedua orangtuanya bekerja,”
ujar Yosi, ibu seorang anak yang tinggal di kawasan Kalimalang, Jakarta
Timur.
 
Tanpa tes alergi
Sebagian dokter pun sering kali terlalu mudah mendiagnosis seorang anak
alergi susu sapi, tanpa melakukan tes alergi terlebih dahulu. Pujiati
pernah mengalami hal ini, dan memberi anaknya susu bubuk kedelai yang
harganya relatif lebih mahal. Nyatanya, setelah tak lagi minum susu bubuk
kedelai pun, anaknya tak bermasalah.
 
Anak Pujiati dan Yosi yang meminum susu sapi biasa tetap sehat, lincah,
dan mudah buang air besar meskipun mereka sama sekali tidak lagi
mengonsumsi suplemen vitamin dan penambah nafsu makan.
Hal krusial lain dalam masalah kesehatan anak adalah imunisasi.
Kesalahpahaman seputar imunisasi kerap terjadi, mulai dari isu autisme
hingga pemberian imunisasi secara tunggal. Beragam riset seperti WHO,
Centers for Disease Control and Prevention (CDC), dan Institute of Medicine
(IOM) telah menegaskan vaksinasi measles, mumps, rubella (MMR) tidak
berkorelasi dengan autisme. Bayi dan anak-anak pun dianjurkan divaksinasi
secara simultan sehingga meminimalkan kunjungan ke dokter, mengurangi
risiko tertular penyakit di rumah sakit, serta anak cepat terbentengi
imunitasnya.
 
Belum lagi dokter yang “bereksperimen” dengan meresepkan obat yang tidak
perlu untuk mengurangi efek demam dari imunisasi.
“Anak saya pernah diresepkan luminal setelah imunisasi DPT
(difteri-pertusis-tetanus). Padahal, luminal itu obat penenang saraf.
Katanya, biar orangtua enggak repot,” tutur Alia Indardi (34), ibu dari
tiga anak, yang tinggal di Jatiwaringin, Bekasi.
 
Alia lantas mengatakan kepada dokter tersebut bahwa dia tidak akan
menebus obat itu. Alasannya, dampak demam dari imunisasi adalah gejala yang
normal. Jika anaknya terganggu dengan demam tersebut, pemberian obat
penurun panas saja sudah mencukupi.
 
Untuk anak yang sedang kejang saja, luminal sudah tidak direkomendasikan
lagi. “Coba kalau pasiennya tidak memiliki informasi yang cukup dan
berimbang, kan pasti sudah langsung menurut saja. Jadilah anak itu dikasih
obat penenang saraf,” ujar Alia.
 
===============
Agar Bayi Tumbuh Sehat
Untuk memulai kehidupan yang berkualitas pada buah hati Anda, pastikan
tempat bersalin yang Anda pilih mendukung ASI eksklusif.
Segera sentuhkan puting susu ibu pada mulut bayi segera setelah dia
dilahirkan.
 
Setelah itu pastikan juga bayi segera divaksinasi hepatitis B segera
setelah lahir.
 
Ketika anak sakit, tanyakan kepada dokter, apa penyebabnya dan bagaimana
tindakan yang perlu dilakukan. Sebaiknya Anda tidak semata-mata bertanya
tentang apa obatnya saja.
 
Jangan segan untuk terus bertanya tentang hal yang ingin Anda ketahui
untuk kesehatan anak meskipun sang dokter terkesan malas menjawab. Oleh
karena itulah, Anda tidak perlu “ikut-ikutan” untuk selalu memilih dokter
yang dibanjiri pasien.
 
Hindari penggunaan beragam obat pada saat yang sama (polifarmasi), untuk
kondisi yang tidak perlu. Hindari antibiotik jika sakit disebabkan virus.
Infeksi karena bakteri pada radang tenggorokan, misalnya, perlu bukti
kultur bakteri dengan mengambil usap tenggorok.
 
Jika memang anak memerlukan antibiotik, pastikan dokter meresepkan
antibiotik spektrum sempit yang bekerja pada bakteri yang dituju. Infeksi
ringan pada saluran napas, telinga, atau sinus hanya perlu antibiotik yang
bekerja pada gram positif. Tak ada salahnya berkonsultasi dahulu dengan
ahli farmakologi?secara online misalnya?sebelum obat dikonsumsi anak.
 
Fotokopi resep
Fotokopi semua resep yang diberikan dokter dan diarsip. Hal ini dapat
membantu Anda jika anak mengalami reaksi efek samping obat. Hal serupa juga
baik dilakukan untuk seluruh anggota keluarga jika memperoleh resep dokter.
Jangan pernah memberikan nomor telepon rumah, seluler, ataupun nomor
telepon kantor Anda kepada agen pemasaran produk susu formula/makanan bayi
di pasar swalayan. Sebab, boleh jadi nantinya Anda akan terus “diteror”.
Maksudnya, ditelepon dan dibujuk supaya anak Anda terus mengonsumsi produk
mereka.
 
Ikuti dan pantau perkembangan masalah kesehatan dari situs-situs
terpercaya yang dapat dijadikan sumber informasi. Misalnya,
www.sehatgroup.web.id, www.mayoclinic.com, www.iwandarmansjah.web.id,
www.idai.or.id, www.who.org, www.aap.org, www.cdc.gov, www.ibfan.org, dan
www.breastfeeding.com. (SF)
 
Posted by mamabumi in 02:32:56 | Permalink | No Comments »

Friday, November 18, 2005

PengenNya.. bumi disapih kayak aLyssa

pas 2 minggu liburan sama bumi kemaren.. mamabumi sempet bingung juga..”wadduuh.. bisa2 bumi ga mau minum susu nii… maunya nyonyo mulu….ditambah lagi “dorongan” dari akibumi + eninbumi…plus sekarang bumi umurnya udah 22 bulan..

alhamdulillah.. ternyata.. hanya beberapa hari awal aja bumi nyonyo mulu.. selebihnya,… kalo masih haus dan ditawarin cucu.. hehehe.. diterima juga..

jadi..mmhh… kayak-nya biar bumi menyapih dirinya sendiri deh…. apalagi… kalo ngebayangin.. mmmhh..mumpung bumi masih bisa nyonyo… yang waktunya mungkin ga lama lagi… mmmhh.. kalo bumi ga nyonyo lagi.. hehehe.. ntar malah mamabumi yang :kangen..

diantara banyak pengalaman moms di milis sehat,…. ini salah satunya yang “the best”… hehehehe… pengalaman mba luluk nyapih alyssa.. yang akhirnya memutuskan ga mimi mama lagi.. sampe hampir umurnya 3 tahun..

memang masih banyak yang “kontra”.. ga boleh menyusu > 2 tahun….. apalagi banyak sekali yang bisa ditafsirkan dari ayat2 di Al Qur’an… tapi Bismillah aja deh..mudah2an ini yang terbaik… amiiin…

Pengalaman Alyssa & her weaning story
 
Dear Smart Parents (SPs),
Boleh ya sharing ?! Maaf jika email ini akan panjang sekali dibaca.
Tepat hari ini, 2 minggu sudah Alyssa memutuskan utk tidak menyusu lagi.
 
Ya betul….2 mg sudah putri cantikku ini masuk usia 3 th.
Hingga hari ini say amasih gak percaya bahwa masa itu datang juga.
Saat alyssa memutuskan sendiri kapan ia berhenti menyusu.
Now she’s a big girl, not a baby anymore. Paling gak itu yg selalu dia katakan kalau ada yg tanya kenapa gak minum mama (istilah alyssa utk menyusu) lagi.
 
Tidak ada perseteruan antara aku & alyssa.
Tidak ada rasa sakit hati karena diberikan pahit2.
Tidak ada kata2 larangan “gak boleh lagi nyusu” dsbnya.
Semua berakhir dg indah, perlahan dan nyaman.
 
Satu hal yg pasti, bonding kuat yg terbentuk selama masa menyusui 3 th
terakhir tetap terjaga dg indah & manis.
 
Setahun yg lalu, menjelang ultah alyssa yg ke-2, aku & suami sama2 bingung gimana cara terbaik utk menyapih alyssa.
 
Apalagi saat itu banyak sekali anggapan & pendapat keluarga juga teman yg berpikir ” kalo dah 2th harus disapih”.
 
Apalagi byk anggapan kalo gak disapih, nanti jadi manja & gak mandiri.
Takut juga sih pas denger spt itu. Meski secara common sense sempat mikir,”masa iya sih”.
 
Ada yg menyarankan utk diberikan jamu pahit di sekitar payudara, agar gak mau nyusu lagi.
Atau diberikan lipstik.
Ada juga saran utk berpisah sementara dg anak.
Yg lucu lagi ada yg nyaranin ke “orang pinter”.
Atau ya dipaksa gak supaya gak nyusu. Kalo rewel ya biar aja.
 
Saat itu saya hanya mikir “Kok ya kenapa semua pilihan terasa menyeramkan dan menyedihkan?! gak ada yg enak di hati”.
Duh kalo saya saja merasa gak nyaman dg pilihan itu, apalagi alyssa.
 
Gimana saya harus menjelaskan ke alyssa kenapa di harus berhenti menyusu pada ibunya. Kata harus itu yg membebani saya & suami.
Hingga saat alyssa berulang tahun yg ke-2, kami masih belum memutuskan
gimana cara terbaik utk menyapih alyssa.
 
Sehari setelah ultah alyssa yg ke-2, kami pernah coba utk menyapih alyssa dg mengatakan bahwa ia gak boleh menyusu lagi. Tapi spt yg aku & suami perkirakan, alyssa gak mau dan gak mengerti kenapa dia harus berhenti sekrg.
 
Tergambar jelas di mukanya bahwa “Kenapa aku gak boleh , ma ?!”
Dan akhirnya kami memilih utk berhenti melakukan usaha “pemaksaan” spt itu. Buat saya, entah kenapa kata “harus berhenti krn sudah 2 th” itu sangat mengganggu pikiran.
 
Banyak pertanyaan di kepalaku “apa ya harus 2 th ?!”, “apa gak ada saran terbaik utk menyapih anak?”, dsbnya.
 
Hmmm……ini waktunya utk mencari jawabannya.
 
Mulai browsing jauh ke WHO, Lalecheleague (LLL), IBCLC, dsbnya.
Dan makin hari mencari tahu, makin membukakan pikiran.
Bahwa ternyata gak ada klausul jelas bahwa 2 th anak harus disapih.
Gak pernah angka (usia) jelas kapan anak harus disapih.
Dan cara menyapih yg berulangkali aku temukan dari hasil2 bacaan itu adalah SLOW WEANING.
 
Dan cara ini lah yg saya & suami sepakati utk kami jalankan.
Paling gak saya yakin betul tidak ada yg merasa sakit hati atau disakiti.
 
Menurut artikel dari yg di WHO & LLL, slow weaning artinya gak menolak saat anak ingin menyusu & gak menawarkan kpd anak utk menyusu. Inilah cara terbaik utk menyapih anak, menurut banyak para ahli laktasi.
 
Belum lagi banyak juga artikel dari sumber terpercaya menjelaskan bahwa kandungan ASI > 2 th tetap kaya akan gizi.
Dan tetap memiliki manfaat ganda utk anak & ibu.
 
Jadilah saya, suami & alyssa bertekad bulat utk tetap memberikan manfaat lebih dan melakukan proses penyapihan secara perlahan (slow weaning).
 
Dari sejak awal proses slow weaning, kami sampaikan ke alyssa, “Nak, mulai sekrg kita sama2 belajar pelan2 ya. Ica boleh minum mama sampai ica merasa udah cukup”.
 
Sejak saat itu semuanya terasa lebih mudah.
 
Saya & suami sangat merasa bahwa kunci utama dari keberhasilan slow weaning adalah komunikasi.
 
Trust & bonding yg terbentuk selama ini akan sgt membantu proses ini.
Makin hari alyssa makin jarang menyusu.
 
Jikapun menyusu hanya saat malam. Itupun juga ia ingat.
Justru yg paling sulit dlm proses penyapihan adalah menghadapi pressure atau pertanyaan2 dari keluarga & kerabat.
 
Jika mereka bertanya “alyssa masih nyusu gak ?”, dan saya/suami/alyssa jawab iya, seberondong pertanyaan dan pernyataan jadi amat sgt menyudutkan.
 
Mulai dari “duh nanti malah jadi manja”, “makin gede makin susah” dsbnya.Meski sudah berulang kali kami jelaskan, bahwa kita dalam proses penyapihan. Tapi lagi2 krn byk yg beranggapan bahwa “gak mungkin menyapih pelan2, malah tambah susah. Yg bener ya sekaligus atau dipaksa” dsbnya.
 
Hmm….krn saya pernah mengalami masa yg lebih sulit (pas memberikan asi eksklusif ke alyssa), maka hal spt ini gak mengganggu saya.
 
Dua minggu lalu, menjelang ulang tahun alyssa ke-3, ia pernah bilang ke saya & suami spt ini :
“Ica kan bentar lagi 3 th. Abis ini ica gak minum mama lagi ya, ma. Soal ica dah gede. Minum mamanya disimpen aja buat adik bayi nanti”.
 
Duhhhhh….ini kalimat terindah ygpernah kami dengar.
Kalimat dari mulut mungil alyssa yg demikian yakin & bangga jadi seorg kakak (ini panggilan dia sendiri utk dirinya, meski belum punya adik/calon adik).
 
Antara percaya dan tidak, bahwa sampai juga masa itu.
Saat ia memutuskan sendiri utk menyapih dirinya sendiri.
Dan ini betul2 ia wujudkan di hari ultahnya yg ke-3.
Alyssa sama sekali berhenti menyusu hingga kini.
Sesekali bapaknya masih menggoda.
Tapi alyssa sudah bersikukuh, kalau dia menyapih dirinya sendiri.
She looks so proud for her decision, because she’s a big girl now !
And we’re really proud for her !
Alyssa tampak begitu mandiri & percaya diri.
 
Sabtu lalu ada lomba 17 agt di sekolahnya, dan alyssa juara 1 utk lomba gross & fine motoric.
Alhamdulillah.
Jadi siapa bilang menyapih itu menyedihkan atau menyakitkan anak dan ibu ?!
 
Siapa bialng menyapih itu pasti sulit ?!
Dan siapa bilang menyusui anak > 2 th akan membuat dia manja dan gak mandiri?!
Semoga dapat menjadi pelajaran.
Bahwa menyapih dg cinta (weaning with love) adalah sangat mungkin dan dapat dilakukan !
 
Love,
Luluk
Posted by mamabumi in 01:19:21 | Permalink | Comments (2)