Wednesday, May 20, 2009

QT3: Siklus Perkembangan Otak Anak


Catatan dari Quality Time @ Laz Cinere
Sabtu, 16 Mei 2009
09.00 – 12.00
Narasumber: Munif Chatib

PEMBUKAAN: 
Target dari sesi kali ini:
Pulang dari QT hari ini, orangtua dapat berlaku “adil” kepada anaknya. “adil” disini adalah dapat menempatkan sesuatu pada “tempat”-nya. 

Saat ini masih banyak ortu yang berlaku tidak adil, dimana anak berada pada fase A, tetapi menggunakan pendekatan pendekatan untuk anak yang ada di fase B.

Dalam kehidupan ini, semua orangtua ingin membuat sang anak “sukses”. 

Bagaimana orangtuda dapat mengantarkan anak menuju kesuksesan?…ada strateginya… diimana ORANGTUA HARUS MEMAHAMI:
1. siklus kompetensi dan pertimbuhan otak anak.
- sehingga dapat ”memperlakukan” anak dengan adil.
2. multiple intellegencies anak.
 ortu daoat mengetahui ”bakat” dan ”keunggulan” anak, sehingga dapat mengarahkannya dengan benar.
3. konsep ”sekolah unggul” yang benar.
 adanya ”kesepahaman” prinsip antara sekolah dan rumah, sehingga pendekatan yang dipakai sama, mengingat rumah kedua anak adalah sekolah.

Bobbi De Porter, Presiden Learning Forum Supercamp Oceanside California USA mengatakan….
”Pendidikan seorang manusia harus didisain dengan RUMUS AJAIB 7 x 3”, yaitu:
• 7 tahun pertama,.. biarkan anak bebas bermain dan tidak boleh ada hukuman.
• 7 tahun kedua,… kenalkan anak baik dan buruk, hukumlah anak apabila melakukan hal yang buruk.
• 7 tahun ketiga,… beriah anak alternatif-alternatif, biarkan mereka memilih.

”Rumus” tersebut diatas ditemukan oleh Bobbi Porter pada tahun 1999, namun ternyata hal tersebut bukan merupakan ide orisinil dari Bobbi Porter, dimana Bobbi Porter mengutip dari ”pendapat” Nabi Muhammad SAW yang mengatakan bahwa:
”Biarlah anak-abak kalian BERMAIN dalam 7 tahun pertama, kemudian DIDIK dan BIMBINGLAH mereka dalam 7 tahun kedua, sedangkan 7 tahun ketiga jadikanlah mereka senantiasa bersama kalian dalam MUSYAWARAH dan MENJALANKAN TUGAS.”

Apabila pandangan tersebut dipetakan, maka:
Anak dalam 7 tahun pertama adalah RAJA, 7 tahun kedua adalah PEMBANTU (yang harus taat dalam menjalankan perintah), 7 tahun ketiga menjadi WAZIR (MENTERI) yang bertanggung jawab terhadap tugas-tugasnya..

Orangtua memiliki ekspekstasi yang bermacam-macam terhadap anaknya, namun.. apabila diringkas,… ekspekstasi orangtua kepada anak-anaknya adalah sebagai berikut:
1. menjadi orang yang berakhlak karimah. ”akhlak” adalah …what you are in the dark..
2. anak memiliki benefiditas (manfaat) bagi dirinya, orangtua, bangsa dan agama.

Lebih jauh lagi,,.. anak ”bermanfaat” memiliki arti yang luas. Anak yang bermanfaat,…tidak selalu harus ”pintar”… namun anak yang ”pintar”… namun tidak disertai dengan akhlak yang baik,.. hasilnya dikuatirkan akan menghasilkan seseorang yang kurang berkarakter dan kurang bermoral.

Apa yang harus diperhatikan orangtua agar sukses mengantarkan sang anak sesuai dengan harapannya?
Apabila 7 tahun ketiga ingin berhasil, maka…
7 tahun kedua harus berhasil, dimana syaratnya
7 tahun pertama harus BERHASIL.

Apabila 7 tahun pertama dilewati oleh orangtua dengan cara yang salah, maka
7 tahun kedua, orangtua akan banyak mengalami hambatan dalam berkomunikasi dengan anaknya, akhirnya…
7 tahun ketiga, si anak tumbuh menjadi pribadi yang kehilangan moral kepercayaan.

Belajar dari pengalaman, apabila orangtua ”salah” melakuan pendekatan,.. pada saat si anak menjadi dewasa akan ”jauh” dengan orangtuanya… padahal pada masa itu,.. kebalikannya.. orangtua yang justru ”tergantung” kepada anaknya… sedangkan si anak malah ”kurang perhatian”/”lupa” kepada ortunya..

7 TAHUN PERTAMA, TAHUN SI RAJA KECIL.
Orangtua seyogyanya:
1. bebas membiarkan anak-anak bertindak, berkeinginan, memberikan perintah, bermain dan bersenang-senang.
 kadang-kadang kita suka bilang:..”anak ga sopan,.. nyuruh2 ortu-nya”… kenapa kita tidak mau disuruh2 oleh darah daging sendiri,… apabila kita ”sukses”di 7 tahun pertama,.. Insya Allah pada 7 tahun kedua, anak akan ”nurut”.

2. memperhatikan mereka dengan santun dan kelembutan dan kasih sayang.
 apabila berbicara dengan anak, lebih baik mata sejajar  lebih mengena

3. memberikan jawaban=jawaban positif atas semua pertanyaan mereka
 pada usia golden age akan timbul banyak pertanyaan,.. jangan di-cut, karena akan membuat semangat si anak menurun dalam fase eksplorasinya.

4. tidak perlu melakukan upaya disiplin yang kaku dan keras.
 percuma apabila menghasilkan disiplin yang negatif.. contohnya,… apabila tidak didepan orangtuanya,. Maka si anak akan melanggar aturan tersebut.
5. anak terdidik dengan mengambil contoh dari orangtua, keluarga, guru dan lingkungannya.
 anak ”belajar” dari learning by doing/example. Jadi apabila kita ingin menyutuh anak sesuatu,.. lebih baik kita menjadi role model.. dan sebaliknya… tindakan negative kita, akan diikuti pula oleh si anak.

6. orangtua hanya menjaga agar kebutuhan anak akan kebebasan senantiasa terpenuhi tanpa harus melupakan keamanan dan keselamatan si anak
 pertimbangkan apakah si anak ”aman” dalam melakukan kreativitas, sehingga ortu tidak meng-cut kreativitas si anak.

7. Orangtua menemani anak dengan kuantitas pertemuan yang banyak.
 salah satunya adalah dengan ”menciptakan” special moment. 
Special moment dapat tercipta diantaranya:
a. Pada waktu bangun tidur *Pada saat anak bangun, yang dilihat pertama kali adalah orangtuanya*
b. Pada saat ”berpisah” ke sekolah atau sebelum berangkat ke kantor… 
c. Pada saat pulang dari sekolah/kantor. *Sebaiknya jangan tanya2 pelajaran pas anak pulang dari sekolah. Apabila orangtua pulang dari kantor dan si anak menyambut dengan ceria.. tandanya.. si anak ”dekat” dengan ortunya*
d. Pada saat anak akan tidur, wajah terakhir yang dilihat adalah wajah kedua orangtuanya.. *apalagi kalo ada ”ritual” tertentu.. akan meninggalkan kenangan yang indah buat si anak*

Hasil yang luar biasa, apabila guru/orangtua berhasil mendidik anaknya dalam 7 tahun pertamanya:
1. Berkembangnya bakat terpendam dalam diri anak.
dengan adanya kebebasan, anak akan leluasa dalam menuangkan kreativitasnya tanpa ”takut”  bakat terpendam akan muncul  tinggal ortu/guru yang mengarahkannya.

2. Timbulnya ”kepercayaan” anak terhadap guru/orangtua
Apabila ortu tanggap terhadap kebutuhan anak secara jasmani dan rohani  anak akan menanamkan rasa percaya pada ortunya.
 PR untuk orangtua agar ”trust” anak diberikan kepada kita.

3. Kesiapan anak dalam menghadapi masa ketaan (7 tahun kedua).
Apabi,a guru/ortu mempunyai rasa percaya terhadap anaknya, dan sebaliknya,  anak akan senantiasa mendengarkan nasehat, saran dan menerima larangan2 yang masuk akal dari guru/ortunya.

4. Ketenangan psikologis anak selama masa berikutnya.
”Betapa baiknya masa kecil seorang anak yang dilalui dengan penuh aktivitas dan penuh kenakalan, sehingga pada masa dewasanya akan menjadi orang yang tenang dan sabar”
(Muhammad Rasulullah SAW).

Menurut Dr A Joseph Bursteln:
a. 99% permasalahan yang dialami anak berusia ”golden age” berasal dari kesalahan orangtua dan guru di sekolah formal.
Anak-anak ”tidak salah”,.. yang harus berubah adalah ”ortunya”
Sofa mahal diloncat2i,.. yang salah adalah ”sofa”-nya.. kenapa ”nyaman”, sehingga anak-anak tertarik untuk bereksplorasi  orangtua harus memfasilitasi agak ”kreativitas” dapat tersalurkan.

b. Rumah dan sekolah seperti ”penjara”, akan mengekang kebebasan anak untuk bertindak.
”karakter” adalah what you are in the dark.
Karakter ada di alam bawah sadar (80-85%).
Alam bawah sadar terdiri dari:
1. memori  harusnya diisi dengan kenangan2 yang indah, 
2. self image  julukan yang kita berikan kepada anak,
3. personality
4. habit
Hubungannya antara ke-empatnya:
Apabila dalam diri anak terdapat banyak memori negatif dan ditambah dengan self image yang terbentuk *misalnya kita men-cap anak ”tidak bisa”*.. maka akan terbentuk personality yang negatif (quitter/sombong).. dan akan menimbulkan habit yang negatif pula.

c. Berharap anak disekolah/rumah menuruti perintah guru/ortu untuk selalu tenang dan diam adalah sebuah kesalahan besar.
 lebih baik, ortu/guru yang masuk ke dunia anak,…

Menurut Benjamin S. Bloom, dalam Stability and Change in Human Characteristic membuktikan bahwa:
50% kemampuan belajar seseorang ditentukan dalam 4 tahun pertamanya,
30%-nya dikembangkan dalam usia 5 – 8 tahun, dan sisanya
20% pada usia 9 tahun ke atas.

MASA 7 TAHUN KEDUA,MASA PRA REMAJA
1. Perubahan dalam bentuk fisik.
2. Mampu membedakan hal yang baik dan yang buruk dalam batas tertentu
3. Kewajiban mendengarkan dan mentaati perintah orangtua.
4. Awal pembelajaran tentang tanggung jawab.
5. Punishment diperbolehkan ddalam alasan dan batas waktu tertentu.
6. Penerapan disiplin, pengawasan dan kemandirian anak.
7. Tahapan yang paling penting dalam pengembangan daya pikir, ketajaman ingatan dan kecepatan dalam melakukan tindakan.
8. Pendidikan adab dan akhllak sangat dominan pengaruhnya untuk kelanjutan tahapan selanjutnya

MASA 7 TAHUN KETIGA, MASA REMAJA
1. Mempunyai ciri dominan perasaan yang peka
2. Masa proses pencarian dan penentuan figur yang diikuti dalam rangka proses pencarian jati diri.
3. Masa pelaksanaan dan tanggung jawab akan tugas harian, sosial dan masyarakat.
4. Tumbuh kebutuhan untuk didengar pendapatnya.
5. Masa yang paling penting untuk menunjukkan eksistensi dan benefiditas kualitas manusia.

Posted by mamabumi in 23:30:37 | Permalink | No Comments »

Saturday, April 25, 2009

QT2: Membuat Proyek Kreatif dengan Multiple Intelligence

Catatan dari Quality Time @ Laz Cinere
Sabtu, 25 April 2009
09.00 – 12.00
Narasumber: Munif Chatib

PEMBUKAAN: 
Target dari sesi kali ini:

Dalam satu bulan ke depan, orangtua setidaknya telah bisa membuat satu proyek kreatif bersama anak.

Pertanyaan “standar” orangtua kepada anak setiap hari adalah:
“Tadi disekolah belajar apa?”
Dan jawaban si anak kebanyakan: (a) tidak tahu; (b) tidak bisa.
Si anak sudah membayangkan, apabila ia menjawab “belajar matematik”, maka si orang tua akan memberikan pertanyaan “test” buat anak.

Bila hal ini terjadi, si anak akan langsung menjawab “tidak bisa”, hal ini akan “memutuskan” serangkaian “pertanyaan” yang akan diberikan oleh si ortu. *anak2 emang pinter yaa… tau aja… ^–^*

Lebih baik pendekatan diubah.
Pernyataan yang ortu berikan pada saat pulang ke rumah adalah:
“sayang,… mama punya proyek hebat,.. yuuk nanti kita sama-sama kerjakan, kalau kamu sudah tidak capai lagi”…

Atau, pertanyaan yang diajukan, misalnya:
”Sayang, tadi ada kejadian heboh apa di sekolah?…….
Dengan demikian, si anak bersemangat untuk ”bercerita”..

MATERI:

Anak ”kreatif”, identik dengan ”nakal”..
Padahal, anak kreatif itu:

1. Lancar berpikir
Anak mampu memberikan banyak jawaban terhadap suatu pertanyaan.
* kebayang kaan,.. kita sering nanya apa,.. dijawab apa… kadang2 jawabannya ngaco suraco bukan?…*

2. Fleksibel dalam berpikir
Mampu melihat suatu masalah dalam berbagai sudut pandang
*si ibu ”heboh”, karena ”mbak” ga dateng,… dan langsung men-judge si mbak malas,… tiba2 si anak nyeletuj..”mba sakit bu…*

3. Orisinil (asli) dalam berpikir
Mampu memberikan jawaban-jawaban yang jarang diberikan anak lain (diluar perkiraan/khas

4. Elaborasi
Mampu memberikan banyak gagasan-gagasan dengan menggabungkan beberapa ide
*risiko: dapur kotor, rumah berantakan = hasil elaborasi si kecil*

5. Imaginatif
Suka dengan khayalan dan sering bermain peran khayalan
*membayangkan dirinya sebagai ”ibu”, atau ”spiderman, sedangkan untuk anak remaja.. khayalan berupa ”fiksi ilmiah”*

6. Senang menjajaki lingkungannya
Senang dengan bermain, mengumpulkan dan meneliti makhluk hidup dan benda mati yang ada dilingkungannya
*ciri anak ”naturalis* 

7. Banyak mengajukan pertanyaan
Suka mengajukan pertanyaan secara spontan berkaitan dengan pengalaman baru anak atau hasil berpikir anak
* Tuhan itu laki-laki atau perempuan? Tuhan itu ada banyak ya? Kan ada dimana-mana*

8. Mempunyai rasa ingin tahu yang kuat
Suka memperhatikan sesuatu yang dianggap menarik dan mendalaminya sampai puas
*sedang bertamu ke rumah seseorang, melihat kristal yang menarik, mata selalu tertuju, pelan-pelan mendekati kristal.. diangkat… terus jatuh.. katanya.. abis berat.. jadi dibagi dua aja deh*

9. Suka melakukan eksperimen
Suka melakukan percobaan dengan berbagai cara untuk memuaskan rasa ingin tahu dan penasarannya

10. Menerima rangsangan baru
Senang dan terbuka mendapatkan rangsangan dan pengalaman baru

11. Berminat melakukan banyak hal
Suka melakukan hal-hal yang baru, berani mencoba hal baru dan tidak takut terhadap tantangan

12. Tidak mudah merasa bosan
Anak tidak mudah bosan melakukan sesuatu, apabila puas, maka akan melakukan sesuatu yang lain lagi
*jadi inget bumi, suka main ”berantem2an”, setelah robot ”bosen”, play dough selesai dicetak.. diadu2 sampai ”kaki, tangan dan kepala” pada ”copot”*

KAPAN KREATIVITAS ANAK DIMULAI?

Ilustrasi:
Kertas putih diberikan kepada ”bayi”, kertas itu akan di-*lihat2*, terus setelah bosen,.. akan disobek2… terus kalo udah bosen… kertas akan masuk mulut.

Sekarang kertas tersebut diberikan kepada anak remaja.
Tanggapan: ”oh ini kertas”.  tidak ada reaksi apapun.

Dari ilustrasi diatas, dapat disimpulkan bahwa:
• 50%, kreativitas akan berkembang pada umur 0 – 4 tahun
• 30% , berkembang pada usia 5 – 8 tahun
• 20%, akan berkembang pada usia > 9 tahun.

Pak Munif bercerita dari pengalaman teman-temannya yang berada di Tokyo.
Suami-istri : Karyawan.
Begitu, istri hamil, maka istri akan mengundurkan diri. Pada hari pengunduran diri, si calon ibu harus pidato didepan teman-teman dan bos-nya.
“sori ya teman-teman n Pak Bos,.. saya ”resign” dulu.
Sepanjang kehamilan, si calon ibu akan mengambil ”kursus seputar kehamilan, kelahiran dan parenting”. 

Si ibu akan kembali bekerja pada saat anak berumur 8 tahun, dan rata-rata akan berkarier setelah anak berusia > 8 tahun.
*kalo abis gitu, ada anak kedua gimana ya?….*

KREATIVITAS ANAK MUNCUL APABILA…………

1. Anak diberikan kesempatan kebebasan berekspresi sesuai dengan perkembangan otaknya.
* ibu sedang masak, anak masuk dapur.. lebih baik dikasih space dengan ruang yang ”aman” daripada muncul kata-kata ”jangan…….”*

2. Anak berkembang dalam suasana rumah dan sekolah yang nyaman dan menyenangkan
* sekali ”rumah/sekolah” tidak nyaman buat anak, kreativitas tidak muncul. Salah satu tanda anak merasa nyaman dirumah, apabila ayah/ibu pulang dari kantor… anak-anak dengan ceria menyambut kedatangannya. Sekolah yang hanya berfokus untuk menyeragamkan satu aspek kecerdasan, akan membuat sekolah seperti sekolah ”robot”.

3. Anak beraktivitas tanpa ada paksaan, tekanan dan hukuman
* hukuman ada 2 macam, fisik, berupa pukulan, jewer, dll sedangkan psikis  marah, membentak, melotot, keluar kata-kata ”ga denger mama, ga punya telinga”. Kata-kata tersebut akan masuk dalam pikiran si anak dan akan menancapkan kaki-kaki negatif dalam dilri anak. Kaki-kaki negatif dapat dibabat dengan cara (a) discovering ability dan (b) minta maaf

4. Anak belajar dengan cara belajarnya, yaitu cara yang disukainya
*ga selalu harus duduk manis di meja belajar*

5. Anak selalu dilatih dan ditantang untuk kreatif.
*apabila 1 proyek kreatif berhasil akan ”ketagihan”*

DUA RASASA PEMBUNUH KREATIVITAS
a. Closing test 
Mengukur kecerdasan dalam arti ”sempit”, hanya 1-2 kecerdasan yang diukur.
*anak mendapat nilai 3 untuk ulangan matematika, berasa ”habis” dunia akhirat*

b. Disability test
Hanya berusaha menemukan kelemahan anak
*seseorang apabila di-fokuskan pada kelemahannya,.. maka orang tersebut akan sulit untuk ”berkembang” dan menemukan benefiditasnya

PROYEK KREATIF DIRUMAH BERDASARKAN PENDEKATAN MULTIPLE INTELLEGENCE
1. Kecerdasan Bahasa
a. Menjadi reporter berita *si anak baca headline di koran*, dibacakan di depan keluarga
b. Membuat buletin keluarga
c. “cerita Heboh” hari ini di sekolah
d. Rekaman rahasia *pake MPEG-3, si anak merekam suaranya,.. lalu hasil rekaman di dengar bersama-sama*
e. Kultum 7 menit *mengenai apa aja*
f. Pesan rahasia *si anak menulis di kertas tentang apa aja *termasuk misalnya keinginannya*, digulung dan imasukkan ke botol,..nanti pesan tersebut dibaca oleh ortunya.
g. Diskusi *meminta anak untuk memberikan alternatif solusi*
h. Cerpen mini
i. Catatan mimpi *anak menulis mimpinya*
j. Scrabble
k. Kalimat hari ini *anak diminta menyusun suatu kalimat dari beberapa kata yang diacak*

2. Matematis Logistis
a. Membuat suatu percobaan sederhana *ide dapat diambil misalnya dari 1.000 penemuan einstein.
b. Mencatat logistik *menghitung berapa sendok, piring, dll yang ada di dapur*
c. Hipotesaku, *membiasakan anak untuk memberik hipotesa tentang suatu masalah*
d. Teka teki hari ini *bisa berupa teka teki jail*
e. Video Games *sebenarnya merangsang beberapa aspek kecerdasan, karena didalamnya ada ”pengambilan keputusan” atau spasial visual, namun harus ada ”frame time” mengenai kesepakatan waktu”

3. Spasial Visual
a. Desain buku *anak menyampul buku dengan karyanya*
b. Warna dunia *mencampur2 warna dari 3 warna dasar, ditulis campurannya, nama warnanya dan dipamerkan*
c. Kolektor *mengkoleksi hasil karya anak*
d. Ahli puzzle, *cari gambar di internet/koran.. digunting2.. dan ditempelkan kembali*
e. Simbol rumahku, *anak diminta menggambar simbol tentang segala sesuatu di lingkungan rumah, mulai dari pintu pagar, dapur, kamar, dll*

4. Kinestetis
a. Karyaku, *anak dibiasakan membuat kerajinan tangan berbagai karya, dipajang*
b. My sport, *fokus untuk menyenangi dan melakukan olahraga rutin yang disenangi*
c. Menari
d. Permainan rakyat, *gobak sodor, benteng2an, engklek,*
e. Bermain layang2
f. Kerajinan tangan *misalnya origami*

5. Interpersonal
a. Memimpin acara keluarga, *misalnya si anak memimpin doa*
b. Membuat acara unik mingguan *seputaran rumah atau tetangga*
c. Silaturahmi, *berkunjung ke rumah saudara atau teman, dan memberikan tugas *khusus* (tanya kakak x, pelajaran sekolah yang paling sulit buat kakak x apa)
d. Telepon/sms keluarga dekat
e. Mengunjungi musibah ” menggugah empati anak*
f. Membuat pohon keluarga, *tanya ke kakek, nenek*

6. Intrapersonal
a. Membuat diary, *tidak usah menerapkan SPO, atau membuat puisi*
b. Koleksi tokoh, *memberikan caraan tentang tokoh-tokoh yang berhasil di berbagai bidang*
c. Bermain peran, *anak menjadi ortu, dan mencoba mengatasi suatu permasalahan yang dihadapi anaknya*
d. Membuat jadwal aktivitas mingguan s/d bulanan.
e. Muhasabah kid, *membuat buku anggaran amalan kebaikan dan kejelekan, misalnya di akhir minggu dihitung: masuk surga atau neraka*

7. Naturalis
a. Memelihara binatang yang disukai dan memberi nama pada binatang tersebut.
b. Memelihara tanaman dan memberi nama



Posted by mamabumi in 17:45:19 | Permalink | No Comments »

Sunday, March 22, 2009

QT1: Semua Anak Cerdas

*buat FAZ yang dah “rela” dirumah sama bumi n kira*

========

Catatan dari Quality Time @ Laz Cinere

Sabtu, 21 Maret 2009

09.00 – 12.30

Narasumber: Munif Chatib

 

Target dari sesi kali ini:

1.         Ibu/Bapak dapat “melihat” sosok anak secara utuh… “alhamdulillah.. anak saya punya potensi kecerdasan”.

2.         Ibu/Bapak mempunyai pemahaman “kesuksesan anak dapat terwujud dari jutaan cara.

 

 

Seorang anak, dapat diibaratkan sebagai “climber” yang sedang mendaki gunung.Apabila diiringi dengan mental yang tidak putus asa, climber tersebut  dapat mencapai Puncak Gunung.

 

Begitu pula persiapan seoarang anak untuk menyongsong masa depannya.

Untuk mencapai Puncak,seorang anak memerlukan kaki. Kaki Pertama merupakan “ creativity”. Kaki Kedua merupakan “problem solving”. Diiringi dengan mental “religion & character building”. “Ransel”/alat  yang dibawa merupakan life skills.

 

Insyaallah, dengan “creativity” dan “problem solving” dengan diiringi “religion dan character building” serta membawa “alat” yang merupakan lifeskills, anak tersebut dapat mencapai suatu tujuan akhir yang “baik”.

 

Menurut Thomas Armstrong PhD *penulis buku The Myth of the ADD Child, in their Own Way dan Awakening Your child’s Natural Genius* terdapat dua bencana besar yang menimpa SDM Amerika yang berkaitan dengan tes kecerdasan,yaitu:

Bencana Pertama, Penerapan Closing Test *diawali pada tahun 1900 oleh Alfred Binet* dan Bencana Kedua, Disabilities test *tahun 1960 oleh Samual Kirk.

 

Mengapa Bencana?

Bencana Pertama, seseorang diukur berdasarkan secara obyektif dan dinyatakan dalam satu angka, yaitu nilai IQ. Bencana kedua,… Samuel Kirk mengembangkan konsep bahwa manusia harus ditemukan “kelemahan”-nya dan diberi label LD, ADD dan ADHD.

 

Teori MI dicetuskan oleh Dr. Horward Gardner pada tahun 1983 di Harward University. Beliau mengkritik validasi test IQ dan Labelisasi “Disability Test”. Kritik yang dikemukakan adalah sebagai berikut:

1. Test IQ terlalu “sempit” (hanya mengukur kederdasan bahasa dan logical matematis) dan tidak cocok dengan perkembangan zaman dan budaya tertentu (“alat”-nya tidak bisa standar,… tidak dapat diterapkan secara umum).

2. Tes IQ bersifat eugenics, rasialis. Pada tahun 1900 test IQ dibuat sebagai “alat ukur” yang harus menghasilkan kesimpulan bahwa “kaum buruh dan turunan”-nya tidak dapat “lulus” sehingga tidak dapat “memenuhi” kriteria seorang “Parlementer”.

3. Tes IQ bersifat konstan, seseorang diukur berdasarkan nilai standar:

< 90                 :  bodoh

91 – 100          :  normal

101 – 110        :  cerdas

> 111               :  jenius

 

4. Test IQ hanya mengukur batas “ketidakmampuan”.

 

 

Lebih lanjut, Gardner me-definisi ”kecerdasan”:

Kecerdasan merupakan kebiasaan, prilaku yang berulang-ulang, sehingga dapat menyelesaikan ”masalah”-nya sendiri (problem solving) dan menciptakan suatu ”kreatifitas”.

 

Contoh:

Anak yang baru belajar berjalan, ”tertarik” untuk naik tangga.

Sedang berlangsung proses kreatif anak.. ia ingin tahu, ”apa” rasanya berada di tempat yang lebih tinggi… dengan ”pelarangan” yang diberikan, akan ”menghambat” proses kreatif si anak.

 

Pola Kerja MI

MI berusaha untuk ”menemukan” kemampuan/potensi dari seseorang agar dapat ”menempatkan” seseorang tersebut pada ”tempat yang sesuai” sehingga dapat menghasilkan ”kondisi akhir” yang terbaik.

 

Diharapkan, orang tua dapat melihat ”potensi” anak, sehingga dapat mengarahkannya sesuai dengan potensinya tersebut agar anak dapat berkembang, sukses dan bahagia berdasarkan potensi yang dimilikinya tersebut.

 

Dalam MI, kecerdasan seseorang:

  1.  Tidak terkait dengan (1) kondisi fisik *”cacat” bukan merupakan halangan*, (2) kondisi intelligence *pinter/bodoh tidak berarti seseorang tidak punya kecerdasan; (3) hasil tes standar *nilai matematika bukan segalanya, memiliki ranking terjelek dikelas, bukan berarti ”gagal”*
  2. Terkait dengan (1) discovering ability *bagaimana kita dapat melihat potensi si anak*, (2) right place *setelah ”tau potensi,.. harus ditempatkan ditempat yang ”Sesuai”  dan (3) benefiditas. ” Benefiditas adalah kemampuan menunjukkan daya manfaat dalam segala hal, mulai hal yang terkecil sampai terbesar”.

 

MI terus mengalami perubahan, saat ini Gardner membagi kecerdasan kedalam 8 bagian, yaitu

1.         Cerdas Bahasa

2.         Cerdas Alam

3.         Cerdas Diri

4.         Cerdas Angka

5.         Cerdas Gambar

6.         Cerdas Musik

7.         Cerdas Bergaul

8.         Cerdas Gerak

Posted by mamabumi in 05:50:34 | Permalink | No Comments »