Friday, February 29, 2008

Cinta MurNi

Kemarin pagi, denger Farhan di DeltaFM, pas word of wisdom.. bilang gini niih…*kurang lebih lah ya….*

Cinta yang panas, diberikan oleh pasangan,
Cinta yang utuh, didapat dari binatang peliharaan,
Cinta murni yang membahagiakan,.. ada pada anak2

aiiiiiii mateeee………………………..
bener banget..

hayooo.. coba yang udah punya anak2…. pada ngaku!!…

Posted by mamabumi in 06:00:09 | Permalink | No Comments »

Monday, July 31, 2006

mendidik anak biar jadi apa yaaa?…

*postingan lama,.. mustinya udah diposting dari tanggal 31 julilalu,.. cuman,… tanggal 5 september baru buka www.deltafm.net ternyata udah diposting renungannya……jadi baru bisa publish sekarang deh* 

tadi pagi..*seperti biasa* dengerin deltaFM,.. asiiik.. jam 6.30-an isinya “renungan” emha ainun najib,…

kali ini tentang “kita mendidik anak itu, biar jadi apa siih?”..biar jadi baik? atau jadi ……

Catatan Kehidupan : Mau Dijadikan Apa Anak Kita?

Para pendengar sekalian, mengenai anak kita dan masa depan. Coba sekarang saya tidak serem-serem lah, ya…saya cuman ngomong.

Coba pilih anak kita untuk menghadapi masa depan yang masih gelap dengan kemungkinan ekonomi, kesejahteraan dan penghidupan yang kita belum tahu bagaimana?

Itu anak, kita mau kita siapin untuk jadi apa? Untuk anak, akan kita didik terutama menjadi anak yang baik atau kalau dalam Islam dididik untuk menjadi anak yang soleh.

Atau terutama bukan baik buruk.

Terutama kita didik menjadi anak yang kuat menghadapi segala tantangan.

Yang mana pilihannya baik atau kuat?

Atau mungkin kita tidak kuat untuk mendidik anak kita menjadi anak yang baik atau soleh. Atau kita juga tidak punya kemampuan untuk mendidik anak kita menjadi anak yang kuat, karena kita sendiri lemah.

Ya, sudah kalau begitu kemungkinan yang ketiga saja. Yaitu kita mendidik anak kita untuk selamat.

Karena keselamatan ini memiliki dimensi lain.

Keselamatan ini tidak bergantung kepada perilaku setiap orang dan masyarakat sekitarnya, tapi juga tergantung kepada kekuasaan besar Allah SWT.

Kalau sudah ditangan Tuhan ini mau hebat, atau tidak hebat, selamat tidak selamatnya, Dia yang menentukan.

Cuman saya ingin sekali lagi menegaskan kepada anda semua dan terutama kepada dirii saya sendiri.

Anak kita mau kita didik menjadi anak yang baik, atau menjadi orang kuat, atau yang penting mudah-mudahan dalam keadaan kuat maupun tidak kuat, baik atau tidak baik, Yang penting anak kita selamat.

 

Posted by mamabumi in 02:29:10 | Permalink | No Comments »

Friday, July 7, 2006

Posisi KeLima ????!!….

Tadi pagi dengerin deltaFM,… *biasanya 6.30 udah nyampe kantor,.. tadi,…dari rumah 6.10… nyuapin bumi dulu,.. secara bumi tidur dari jam 5 sore sampe jam 5.30 td pagi.. hehehe.. pasti laper berat tuh*… kalo jam 6.30-an itu gilirannya “Emha Ainun Najib”.. bagus deh.. mewakili hati yang galau..

Yang nempel di mamabumi sih cuman ini….

Posisi Tuhan Kelima adalah “posisi” kepepet,… kalo seseorang “kepepet”… baik dalam urusan rumah tangga, karier,… pemerintahan dan lain-lain,.. orang ini baru “ingat” kepada Tuhan,…tapi inipun lebih baik,.. daripada pas “kepepet” ingat yang lain…

oh iya,.. satu lagi,.. hari kamis kemaren dapet imel dari teman,.. bagus deh… sejalan sama “posisi kelima” ini.. hehhee…

Ketahuilah OlehMU

Jika kau merasa lelah dan tak berdaya dari usaha yang sepertinya sia-sia..

Allah SWT tahu betapa keras engkau sudah berusaha.

Ketika kau sudah menangis sekian lama dan hatimu masih terasa pedih…

Allah SWT sudah menghitung airmatamu.

Jika kau pikir bahwa hidupmu sedang menunggu sesuatu dan waktu serasa berlalu begitu saja…

Allah SWT sedang menunggu bersama denganmu.

Ketika kau merasa sendirian dan teman-temanmu terlalu sibuk untuk menelepon…

Allah SWT selalu berada disampingmu.

Ketika kau pikir bahwa kau sudah mencoba segalanya dan tidak tahu hendak berbuat apa lagi…

Allah SWT punya jawabannya.

Ketika segala sesuatu menjadi tidak masuk akal dan kau merasa tertekan…

Allah SWT dapat menenangkanmu.

Jika tiba-tiba kau dapat melihat jejak-jejak harapan…

Allah SWT sedang berbisik kepadamu.

Ketika segala sesuatu berjalan lancar dan kau merasa ingin mengucap syukur…

Allah SWT telah memberkatimu.

Ketika sesuatu yang indah terjadi dan kau dipenuhi ketakjuban…

Allah SWT telah tersenyum padamu.

Ketika kau memiliki tujuan untuk dipenuhi dan mimpi untuk digenapi…

Allah SWT sudah membuka matamu dan memanggilmu dengan namamu.

Ingat bahwa dimanapun kau atau kemanapun kau menghadap…

Allah SWT TAHU …….

 

Dari Abdullah bin ‘Amr r.a., Rasulullah s.a.w. bersabda, Sampaikanlah pesanku biarpun satu ayat…

 

 

Posted by mamabumi in 06:32:46 | Permalink | No Comments »

Tuesday, December 6, 2005

dalam rangka…

buat kado anniversary mamabumi yang tinggal * ehem ehem* 9 hari lagi.. ini ada renungan yang pernah dibacain di IdaKhrisnaShow.. dan diposting di milis IKS kemaren.. (hehehehe… mba ida tau aja niih.. yang mamabumi mau…)

tapi bener banget apa yang ditulis disitu…bener2 kena dihati mamabumi… ga tau deh kalo papabumi….rasa2nya siih pas renungan ini dibacain… denger juga deh dimobil… tapi yaah.. bukan papabumi kalo bisa memperlihatkan “hati”-nya… hehehe…

MENIKAH

Benarkah menikah didasari oleh kecocokan?
Kalau dua-duanya suka musik, berarti ada gejala bisa langgeng.. Kalau sama-sama suka sop buntut berarti masa depan cerah…(That simple?……..)

Berbeda dengan sepasang sandal yang hanya punya aspek kiri dan kanan, menikah adalah persatuan dua manusia, pria dan wanita. Dari anatomi saja sudah tidak sebangun, apalagi urusan jiwa dan hatinya.

Kecocokan, minat dan latar belakang keluarga bukan jaminan segalanya akan lancar.. Lalu apa? MENIKAH adalah proses pendewasaan. Dan untuk memasukinya diperlukan pelaku yang kuat dan berani. Berani menghadapi masalah yang akan terjadi dan punya kekuatan untuk menemukan jalan keluarnya.

 

 


Kedengarannya sih indah, tapi kenyataannya?
Harus ada ‘Komunikasi Dua Arah’, ‘Ada kerelaan mendengar kritik’, ‘Ada keikhlasan meminta maaf’, ‘Ada ketulusan melupakan kesalahan,dan Keberanian untuk mengemukakan pendapat’.

Sekali lagi MENIKAH bukanlah upacara yang diramaikan gending cinta, bukan rancangan gaun pengantin ala cinderella, apalagi rangkaian mobil undangan yang memacetkan jalan.

MENIKAH adalah berani memutuskan untuk berlabuh, ketika ribuan kapal pesiar yang gemerlap memanggil-manggil

MENIKAH adalah proses penggabungan dua orang berkepala batu dalam satu ruangan dimana kemesraan, ciuman, dan pelukan yang berkepanjangan hanyalah bunga.

Masalahnya bukanlah menikah dengan anak siapa, yang hartanya berapa, bukanlah rangkaian bunga mawar yang jumlahnya ratusan, bukanlah perencanaan berbulan-bulan yang akhirnya membuat keluarga saling tersinggung, apalagi kegemaran minum kopi yang sama…

MENIKAH adalah proses pengenalan diri sendiri maupun pasangan anda. Tanpa mengenali diri sendiri, bagaimana anda bisa memahami oranglain…?? Tanpa bisa memperhatikan diri sendiri, bagaimana anda bisa memperhatikan pasangan hidup…??

MENIKAH sangat membutuhkan keberanian tingkat tinggi, toleransi sedalam samudra,serta jiwa besar untuk ‘Menerima’ dan ‘Memaafkan’.

* Kesalahan terbesar kita dalam memilih pasangan adalah kita lebih mementingkan dengan siapa kita menikah bukan seperti apa orang yang akan kita nikahi. Kita lebih melihat dari fisik orang tersebut bukan kualitas orang tersebut.

 

 

Posted by mamabumi in 00:27:56 | Permalink | Comments (2)

Friday, October 28, 2005

ia Hadir untuK diCinTa…

mamabumi seneeeng… banget baca tulisan ini…. buat reminder… terutama untuk menghadapi bumi yang lagi “pinter2″-nya.. hehehe.. terutama pinter maenin emosinya mamabumi

apalagi kebayang.. pas pak gatot (satpam di lantai 15) “kehilangan” putrinya yang berumur 3 tahun… kliatannya gara-gara meningitis…pertama2 di-diagnosa ada perenggangan di rongga otak.. trus akhirnya koma… dan akhirnya Allah SWT memanggilnya…

gara-gara kejadian itu.. mamabumi jadi kelabakan cari tulisan ini… search bolak balik di milis idaarimurticlub or idakhrisnashow.. soalnya biasanya kan asalnya dari renungan yang dibacain di siarannya ida arimurti tiap pagi…

ada siih.. dikirim dari ingkan.. cuman di-protect.. ga bisa copy… minta lagi.. ga di-reply2.. akhirnya.. hehehe.. dapet dari imelda scorvia. . dan taraaa… jadi deh di-posting di sini…

Ia Hadir untuk Dicinta

Jika masih tertahan kelopak mata ini untuk tetap terbuka hingga larut, atau saat terjaga di pertengahan malam selalu saya sempatkan untuk menyambangi kamar anak-anak. Saya hampiri dan tatap wajah mereka bergantian sambil menghalau nyamuk yang hinggap ditubuh mereka. Wajah indah yang terlelap itu menyibakkan kejujuran dalam hati, bahwa mereka hadir sebagai amanah yang harus dijaga sebaik-baiknya.

Mereka ada untuk dicinta.

Terbayanglah kekesalan yang hampir tercipta akibat perbuatan dan tingkah nakal mau pun pembangkangan mereka siang tadi. Terlintaslah amarah yang nyaris meluap saat mereka tak mendengar perintah mau pun ketika peraturan terlanggar. Beruntung kekesalan itu hanya sempat mampir di kepala dan tak sampai keluar makian kasar yang pasti akan melukai telinga mereka.

Bersyukur amarah ini tak sekali pun sempat membuat mereka melihat saya seperti monster yang menakutkan.

Mereka hanya anak-anak yang sangat pantas dan bisa sangat dimaafkan ketika berbuat kesalahan. Jiwa mereka masih sangat rapuh untuk menerima kalimat dan perilaku kasar orang tua hanya karena kesalahan kecil yang mereka pun mungkin tak sadar kalau itu benar-benar sebuah kesalahan.

Bisa jadi letak kesalahan justru terletak pada orang tua yang terlalu kaku membuat peraturan, mengekang kebebasan mereka sebagai individu yang meski masih kecil tetap saja seorang manusia yang berhak dan bebas memilih untuk melakukan yang terbaik menurut mereka.

Tugas orang tua bukan melarang atau memerintah, tapi lebih kepada mengarahkan agar mereka tetap berada pada jalur yang sebenarnya.Menatap kembali wajah-wajah bersih itu dalam tidur mereka yang mungkin sedang memimpikan Ayah dan Ibu yang tengah menimang dan membuai penuh kasih,tergambar jelas tak sedikit pun ada dosa di diri mereka. Kalau mau menghitung-hitung, jangan-jangan justru kita lah yang lebih banyak berbuat kesalahan terhadap mereka dibanding jumlah kesalahan kecil mereka.

Saya teringat banyak kejadian di luar. Misalnya ketika di sebuah angkot seorang ibu memaki anaknya yang masih berusia empat tahun *dari posturnya seukuran anak saya- dengan kalimat yang sangat belum waktunya anak sekecil itu mendapatkannya. Belum lagi tempelengan yang sempat mampir di kepalanya. “goblok lu ya, kalau jatuh mampus luh,” hanya karena ia sempat melongok ke arah pintu angkot. Sebuah kesalahan kecil yang mestinya bisa disikapi lebih bijak dengan sebuah nasihat lembut. Atau ketika isteri saya bercerita tentang seorang ibu dari teman sekolah anak kami di TK. Anaknya terjatuh saat berlari, “Nyungsep sekalian biar bonyok tuh muka. Udah dibilangin jangan lari,” itu pun masih ditambah satu tamparan di kepala. Yang pasti itu tak meredakan tangis si anak, bahkan membuat memar di lututnya semakin perih terasa hingga ke hati.

Mengusap bulir keringat di kening mereka dan membelai rambutnya saat tidur membuahkan pertanyaan di benak ini, haruskah bintang-bintang sejernih ini mendapatkan perlakuan sekasar itu? Lihat saja senyum mereka saat terlelap, dan dengarkan hati mereka bernyanyi dalam mimpi. Anda akan mendengarkan nyanyian riangnya jika Anda memperlakukannya sepanjang hari seperti halnya Anda tengah menciptakan sebuah mimpi indah untuknya.

Namun jangan terperanjat ketika tengah malam tidur, Anda terusik saat ia mengigau dan berteriak ketakutan.

Hanya rintihan yang bisa terdengar dari mimpinya karena sepanjang hari ia hanya mendapatkan kecemasan dan ketakutan dari kalimat kasar, delikkan mata dan ayunan keras tangan Anda ke tubuh mereka.

Tak seekor nyamuk pun pernah saya persilahkan untuk menyentuh setiap inci kulit mereka. Lalu kenapa masih ada yang tega mencederai anak-anak, padahal dalam berbagai dongeng mereka selalu mendengar bahwa yang kasih dan cintanya tak terbanding itulah Ayah dan Ibu.

Coba sentuh dengan lembut wajah halusnya saat tidur, itu akan membuatnya bermimpi indah seolah tengah terbaring di pangkuan bidadari.

Anak-anak tak pernah membenci orang tuanya, bahkan saat mereka mendapatkan perlakukan kasar dari orang tua pun, tetap saja nama Ayah atau Ibu yang mereka panggil saat menangis. Anak-anak tak pernah berdosa terhadap orang tuanya, justru kebanyakan orang tua yang berdosa kepada mereka dengan makian kasar dan pukulan menyakitkan. Anak-anak tak pernah benar-benar membuat orang tua kesal, orang tua lah yang teramat sering membuat mereka kecewa mendapati Ayah dan Ibunya tak seindah syair lagu yang selalu diajarkan guru di sekolah.

Ah, kadang orang tua baru menyadari bahwa anak-anak hadir untuk dicinta saat ia terbaring lemah di salah satu tempat tidur di bangsal anak-anak. Atau ketikaTuhan mencabut amanah itu dari kita. Menangiskah kita?

Posted by mamabumi in 07:06:28 | Permalink | Comments (1) »

Thursday, October 13, 2005

buKan aKu tak CINTA..

reminder buat mamabumi.. biar kalo pas pulang kantor bumi rewel pengen nenen -sementara mamabumi belom solat maghrib- mamabumi ga marah2 sama bumi..padahal bumi udah sabar nungguin mama dari tadi…

Bukan Aku Tak Cinta

Cassie menunggu dengan antusias. Kaki kecilnya bolak-balik melangkah dari ruang tamu ke pintu depan. Diliriknya jalan raya depan rumah. Belum ada. Cassie masuk lagi. Keluar lagi. Belum ada. Masuk lagi. Keluar lagi. Begitu terus selama hampir satu jam. Suara si Mbok yang menyuruhnya berulang kali untuk makan duluan tidak digubrisnya.

Pukul 18.30. Tinnn……….. Tiiiinnnnn………….. !! Cassie kecil melompat girang! Mama pulang! Papa pulang! Dilihatnya dua orang yang sangat dicintainya itu masuk ke rumah.

Yang satu langsung menuju ke kamar mandi. Yang satu menghempaskan diri di sofa sambil mengurut-urut kepala. Wajah-wajah yang letih sehabis bekerja seharian, mencari nafkah bagi keluarga. Bagi si kecil Cassie juga yang tentunya belum mengerti banyak. Di otaknya yang kecil, Cassie cuma tahu, ia kangen Mama dan Papa, dan ia girang Mama dan Papa pulang.

“Mama, mama…. Mama, mama….” Cassie menggerak-gerakkan tangan Mama. Mama diam saja. Dengan cemas Cassie bertanya, “Mama sakit ya? Mananya yang sakit? Mam, mana yang sakit?”

Mama tidak menjawab. Hanya mengernyitkan alis sambil memejamkan mata. Cassie makin gencar bertanya, “Mama, mama… mana yang sakit? Cassie ambilin obat ya? Ya? Ya?”

Tiba-tiba… “Cassie!! Kepala mama lagi pusing! Kamu jangan berisik!” Mama membentak dengan suara tinggi.

Kaget, Cassie mundur perlahan. Matanya menyipit. Kaki kecilnya gemetar.

Bingung. Cassie salah apa? Cassie sayang Mama… Cassie salah apa? Takut-takut, Cassie menyingkir ke sudut ruangan. Mengamati Mama dari jauh, yang kembali mengurut-ngurut kepalanya.

Otak kecil Cassie terus bertanya-tanya: Mama, Cassie salah apa? Mama tidak suka dekat-dekat Cassie? Cassie mengganggu Mama? Cassie tidak boleh sayang Mama?

Berbagai peristiwa sejenis terjadi. Dan otak kecil Cassie merekam semuanya.

Maka tahun-tahun berlalu. Cassie tidak lagi kecil. Cassie bertambah tinggi.

Cassie remaja. Cassie mulai beranjak menuju dewasa.

TIN TIIIN ! Mama pulang. Papa pulang. Cassie menurunkan kaki dari meja.

Mematikan TV. Buru-buru naik ke atas, ke kamarnya, dan mengunci pintu. Menghilang dari pandangan. “Cassie mana?”. “Sudah makan duluan, Tuan, Nyonya.”

Malam itu mereka kembali hanya makan berdua. Dalam kesunyian berpikir dengan hati terluka: Mengapa anakku sendiri, yang kubesarkan dengan susah payah, dengan kerja keras, nampaknya tidak suka menghabiskan waktu bersama-sama denganku? Apa salahku? Apa dosaku? Ah, anak jaman sekarang memang tidak tahu hormat sama orangtua! Tidak seperti jaman dulu.

Di atas, Cassie mengamati dua orang yang paling dicintainya dalam diam. Dari jauh. Dari tempat dimana ia tidak akan terluka.

Mama, Papa, katakan padaku, bagaimana caranya memeluk seekor landak?

Sumber: Disadur dari “Tulang Rusuk”, oleh Michael, diadaptasi oleh Ev. Sugeng Wiguno

Posted by mamabumi in 04:26:36 | Permalink | No Comments »